Sunday, November 23, 2014

Mengapa Harus Bermoral?

Rabu, 22 Oktober 2014

Kami yang biasa menamakan atau diberi nama anak-anak “Belakang BEM” melakukan diskusi yang memang diadakan tiap minggu. Forum diskusi ini biasa disebut “Discussion Community”. Forum ini memang sempat vakum beberapa lama karena kesibukan politik dan masalah-masalah internal yang ada di kampus. Baru-baru ini saja kami mencoba kembali menghidupkan suasana diskusi yang sudah lama tidak diselenggarakan.

Topik diskusi kali ini telah ditentukan seminggu yang lalu ketika sedang nongkrong santai di pelataran gedung FISIP UIN, topik diskusi kali ini bertemakan “Mengapa Harus Bermoral?”. Topik yang cukup abstrak memang. Kami memiliki prinsip untuk membuka ruang sebebas-bebasnya dalam menyatakan pendapat dan membolehkan siapa saja dan/atau ide apa saja untuk dikontestasikan dalam forum diskusi ini. Tak penting rasanya nama forum diskusi dan nama kelompok kami, setiap orang bebas menamakan apa saja forum ini, yang jelas forum diskusi ini tidak sedikit pun membatasi ide.

Berangkat dari prinsip forum diskusi kami, maka tema-tema yang dilemparkan untuk menjadi tema diskusi tidak sedikitpun dibatasi. Hal apapun akan didiskusikan dengan serius tetapi tetap santai dan penuh canda. Diskusi kali ini dimulai ketika ba’da maghrib, setelah semua kelas kuliah selesai. Diskusi kali ini dihadiri oleh kurang lebih 11 orang, cukup ramai untuk sebuah forum diskusi santai.

Model diskusi kami menciptakan kondisi dimana setiap peserta diperbolehkan untuk berpendapat sesuai dengan penafsirannya, karena sesuai dengan prinsip kami bahwa Discussion Community membuka ruang sebebas-bebasnya dalam menyatakan pendapat dan membolehkan siapa saja dan ide apa saja untuk dikontestasikan dalam forum diskusi.

Satu prinsip lagi, mengambil dari ayat Al-Qur’an yang kurang lebih berbunyi “Tidak ada paksaan dalam beragama”. Kami menambahkan ayat tersebut untuk dijadikan prinsip kami, yaitu “Jika dalam agama pun tidak ada paksaan dalam beragama, apalagi berdiskusi”. Oleh karena itu, berpendapat atau tidak adalah hak peserta diskusi dan setiap peserta diskusi memiliki hak dan kewajiban yang sama, tidak ada perbedaan.

Setelah adzan Maghrib selesai dikumandangkan, logistik utama diskusi seperti rokok dan kopi sudah tersedia, maka diskusi dimulai. Pertama-tama diskusi dibuka oleh Edo sebagai moderator diskusi. Ia membuka forum dengan sebuah pertanyaan apa itu moral lalu meminta penafsiran seluruh peserta atas pertanyaan tersebut.

Gendut (Yuda) memulai bahasan diskusi dengan menyatakan bahwa moral adalah sebuah nilai positif, sebab nilai negatif disebut sebagai amoral, maka dari itu nilai negatif tidak lagi dapat disebut sebagai moral. Sedangkan Acong, dengan gaya berpikirnya yang sedikit nyeleneh, berpendapat bahwa sistem moral yang dianggap orang sebagai acuan moralitas adalah sebuah sistem yang justru membuat orang menjadi munafik.

Pendapat Acong membuat peserta diskusi kebingungan, lalu Fadel menafsirkan pendapat Acong menjadi lebih jelas. “Sebuah sistem moral yang melahirkan aturan-aturan yang menekan individu untuk berperilaku seringkali tidak sesuai dengan kemauan hati nurani individu. Individu berperilaku sesuai aturan hanya karena tekanan lingkungan bukan kemauan individu, hal inilah yang membuat Acong berpikir bahwa moralitas membuat orang menjadi munafik,” sebut Fadel dengan tafsirannya atas maksud Acong, disambut angguk paham peserta diskusi dan Acong sendiri.

Melanjutkan pertanyaan Edo tadi, Arya berpendapat bahwa moral adalah sesuatu yang menentukan sifat orang. Menurut Arya, moralitas adalah sebuah landasan seseorang dalam berpikir untuk menentukan sikap yang ketika terbiasa akan menjadi sifat.

Momon (Dery) sendiri berpendapat bahwa moral adalah tolak ukur baik tidaknya perilaku dan sifat seseorang. Risang masuk dengan pendapatnya yang sederhana tapi cukup komprehensif. Jika menurut Risang, moral sama dengan etika, yaitu nilai baik yang terdapat dalam manusia. Hampir mirip dengan pendapat Gendut. “Moral adalah sebuah sistem dalam masyarakat untuk menentukan baik-tidaknya perilaku yang dihasilkan individu dalam masyarakat,” lanjut Risang.

Kinkin (Ricky) mengatakan bahwa menurutnya moral adalah sesuatu yang mengikat dan sudah ada dalam masyarakat. Oleh sebab itu, manusia sebagai anggota masyarakat tidak akan bisa keluar dari sebuah sistem moralitas yang dihasilkan masyarakat untuk mengatur anggota-anggotanya tetap harmonis. Ajisoko sedikit menambahkan, baginya moral adalah separator. “Maksudnya, moral adalah pagar-pagar separator yang dibuat agar anggota masyarakat tidak melewati aturan-aturan yang sudah dibuat demi kebaikan keseluruhan masyarakat,” ujar Ajisoko.

Teddy mengiyakan pendapat Kinkin dan Aji. Menurut Teddy, moral adalah nilai yang tertanam dalam masyarakat dan secara langsung maupun tidak langsung tertanam pula pada setiap individu yang memang tidak akan mampu melepaskan diri dari masyarakat. Idek (Kaffa) juga mengemukakan pendapatnya, mirip dengan pendapat Risang. Ia menyatakan bahwa moral adalah nilai yang lahir dari masyarakat dan akhirnya tertanam dalam setiap individu.

Abay (Akbar) mencoba mengelaborasi pendapat teman-teman dari forum diskusi. Abay memuji pendapat kawan-kawan sebelumnya. Ia menyepakati beberapa pendapat sebelumnya yang menyatakan bahwa moral adalah tolak ukur baik-tidaknya sikap seseorang dan alat tolak ukur tersebut memang sudah tertanam dalam pikiran kolektif masyarakat.

Fadel melanjutkan diskusi melalui perspektif etimologi. Ia pertama-tama mengutip dari KBBI, moral adalah ajaran baik buruk yang ditanamkan masyarakat. “Keluar dari definisi operasional KBBI. Menurutnya moral adalah sebuah tolak ukur universal yang tertanam dalam setiap kepala manusia dan bukan ditanamkan oleh masyarakat. Jika benar moral tertanam dalam masyarakat maka sistem moral tiap budaya akan berbeda, tapi nyatanya setiap budaya memiliki nilai-nilai universal yang hampir sama,” lanjutnya.

Suasana forum diskusi yang berawal kalem mulai menjadi panas, alurnya yang mengalir lembut menjadi mandek. Peserta diskusi banyak yang tidak menyepakati pendapat Fadel dan meminta klarifikasi dan bukti-bukti konkret. “Sebab, faktanya terdapat banyak perbedaan nilai baik dan buruk dalam setiap budaya,” seru Abay.

Momon mengiyakan pendapat Abay, ia memberikan contoh di Eropa yang dimana budayanya tidak terlalu mempermasalahkan kedekatan pria dan wanita yang tentunya berbeda jauh dengan budaya di Asia. Masih banyak lagi contoh-contoh kontradiksi terkait masalah moralitas yang terikat oleh budaya masyarakat, sebut peserta diskusi yang lain.

Fadel menjelaskan, bahwa memang benar secara kasat mata terdapat banyak sekali kontradiksi nilai moral dalam setiap budaya. Ia mencontohkan sikap anak terhadap orangtua. “Dalam budaya Betawi, percakapan gue-loe anak terhadap orangtua adalah lumrah sedangkan dalam budaya lain tentu dianggap tidak sopan. Di Eropa, hubungan anak terhadap orangtua juga tidak sedekat hubungan orangtua-anak di Asia. Orang Eropa tidak perlu mencium tangan orangtuanya, jika kita melihat hanya dalam kacamata budaya Asia terkhusus Indonesia maka kita akan menyatakan bahwa itu adalah perbuatan yang tidak sopan,” balas Fadel.

Fadel kembali menambahkan bahwa kita harus memperkaya perspektif untuk melihat segala sesuatu, bagaimanapun bentuk hubungan yang tampak antara orangtua dan anak di setiap budaya, nilainya tetap sama bahwa anak harus menghormati orangtua.

”Secara bentuk atau yang terlihat mata, memang banyak sekali kontradiksi-kontradiksi nilai yang terjadi, tapi secara esensi atau isinya tetap sama. Itulah yang saya maksud dengan moral, sebuah nilai universal. Tertanam dalam setiap kepala manusia. Esensinya sama, tapi mengejewantah dalam setiap budaya dengan berbeda sesuai dengan faktor-faktor yang mempengaruhi budaya tersebut,” lanjut Fadel.

Edo sebagai moderator menengahi perselisihan-perselisihan dan mencoba untuk melanjutkan diskusi agar tidak hanya berkutat dalam masalah definisi. Fadel kembali memotong, ia berpendapat bahwa sebuah pembahasan tidak akan dapat didiskusikan jika tidak ditemukan definisi operasionalnya. Sebab, menurutnya jika pemahaman definisinya berbeda maka ke depannya akan terjadi banyak sekali salah paham.

Peserta diskusi menyepakati pendapat Fadel, sehingga diskusi tentang definisi moral masih dilanjutkan. Pendapat demi pendapat keluar dan tidak menemui kesepakatan tentang definisi operasional. Demi kelancaran diskusi, maka Abay kembali mengelaborasi pendapat teman-teman sebelumnya. Satu per satu peserta diskusi mengemukakan pendapatnya dan akhirnya disepakati definisi operasional dari moral, yaitu nilai yang dianggap pantas oleh masyarakat, yang terikat oleh ruang dan waktu.

Seluruh peserta diskusi pun setuju atas definisi operasional tersebut. Teddy mengatakan, biarlah definisi kita berbeda dari definisi orang kebanyakan, yang penting kita puas dan mendefinisikan sesuatu benar-benar dari kepala kita, tidak hanya mengikuti tradisi definisi yang ada.

Edo membenarkan pendapat Teddy, menurutnya kita memang minoritas dan tak apalah sebab mayoritas sering kali dapat digambarkan sebagai sekumpulan ikan mati yang mengikuti arus. “Bagaimanapun, Idek tetaplah minoritas di dalam minoritas,” ujar Edo mempercair suasana, sembari menunjuk Idek yang dianggap kaum minoritas karena memiliki kulit gelap seperti ras Negroid.

Fadel menambahkan bahwa penting menjadi minoritas, karena semua gerakan masif lahir dari kalangan minoritas. Ia mencontohkan Yesus yang hanya memiliki 12 murid tapi kini ajarannya dianut oleh lebih dari 2 milyar manusia di muka bumi. Begitupun Buddha, Nabi Muhammad SAW, dan orang hebat lainnya yang lahir dari rahim kalangan minoritas.

Akhirnya, kami, anak “Belakang BEM” patut berbangga menjadi kaum minoritas. Setelah menemukan definisi operasional ala kami, Edo sebagai moderator kembali melemparkan pertanyaan yang sesuai dengan tema diskusi kali ini sekaligus puncak pembahasan, yaitu “Mengapa Kita Harus Bermoral?”

Sesi kali ini berbeda dengan sesi pertama tadi, kali ini setiap orang tidak diberi antrean untuk berpendapat, tapi siapapun yang mau berpendapat boleh langsung menyatakan pendapatnya. Momon memulai pendapat bahwa kita harus bermoral agar dapat diterima masyarakat, karena secara tidak langsung jika kita tidak bermoral maka masyarakat tidak akan menerima kita dan otomatis kita dijauhi.

Hampir seluruh peserta diskusi menyepakati pernyataan Momon. Fadel menyatakan keberatannya, menurutnya di era kapitalisme global seperti sekarang ini, moral bukan acuan utama seseorang diterima atau tidak oleh masyarakat. Ia mengatakan bahwa acuan utama saat ini adalah uang, dimana ketika kita memiliki banyak uang maka kita akan bisa terus bertahan hidup. Faktanya banyak saat ini orang tidak bermoral yang melanggar nilai kepantasan masyarakat tapi tetap saja hidupnya enak-enakan.

Risang yang sepakat dengan pendapat Momon keberatan dengan pendapat Fadel. Menurutnya setiap orang harus bermoral, paling tidak untuk pergaulan. Jika kita tidak memiliki moral dalam bergaul maka tidak akan ada yang mau berdekatan dengan kita, jika hal itu sudah terjadi maka hal tersebut akan membunuh orang yang tidak bermoral itu.

Kinkin menyahut setuju dengan Risang, ia mengatakan bahwa sejahat apapun orang pasti tetap membutuhkan orang bermoral. “Sebagai contoh, pengedar narkoba akan membutuhkan orang baik atau bermoral untuk menyalurkan barang-barang haramnya, sebab jika tidak ada orang baik maka roda kehidupan jahat pun akan berhenti,” lanjut Kinkin.

Abay mengiyakan pendapat Kinkin, bagaimanapun pengusaha jahat akan membutuhkan orang yang bermoral untuk menjalankan roda uangnya. Sebab kejujuran adalah salah satu indikator dari orang yang bermoral.

Gendut menafsirkan bahwa berarti moral sangat bergantung dari konteks ruang dan waktu. Ia melanjutkan pendapatnya dengan menyatakan bahwa setiap kelompok memiliki sistem moral yang berbeda, sebagai contoh sistem moral kelompok perampok dan kelompok pemabuk memiliki perbedaan sistem moral. “Tapi terlepas dari itu semua, benar kata Fadel, ada sebuah nilai universal yang sama, yaitu mereka harus memiliki loyalitas terhadap kelompoknya dan saling menghargai walaupun secara bentuk berbeda, tetapi secara kasat mata akan sama jika kita mengambil esensinya,” lanjutnya.

Edo kembali memasuki arena kontestasi pendapat, “Rasanya pertanyaan mengapa kita harus bermoral terjawab sudah, tidak begitu sulit seperti yang dibayangkan. Mari kita coba kerucutkan lagi. Tiba-tiba muncul sebuah pertanyaan dari dalam kepala, darimana moral berasal?” tanya Edo, seakan peserta diskusi belum cukup pusing dari semenjak dimulainya forum ini.

Walaupun sebenarnya pertanyaan itu adalah sebuah momok pikir baru yang menarik untuk didiskusikan.. Darimana moral berasal? Suasana diskusi sempat hening barang sejenak, peserta diskusi terlihat berpikir keras untuk menjawab pertanyaan ini. Pencarian di Google tidak dianjurkan di forum ini, sebab kita ingin apapun ide yang keluar adalah orisinil dari kepala kita sebagai bentuk syukur kepada Tuhan yang sudah memberikan akal yang memiliki potensi luar biasa ini.

Fadel sebagai orang yang paling banyak membaca buku di antara peserta diskusi lain, akhirnya mulai menceritakan tentang sejarah manusia dalam perspektif evolusi Darwinisme. Menurutnya, manusia ketika usianya masih sangat muda dalam evolusinya dipaksa beradu kuat dengan hewan di alam bebas untuk bertahan. Tentunya jika tidak memiliki kelompok sosial, manusia akan sangat mudah mati dimakan hewan buas. Ketika itu peralatan manusia masih sangat terbatas sehingga manusia harus saling bekerja sama untuk tetap bertahan hidup. Saat manusia berkumpul membentuk kelompok, mereka berkembang biak menjadi banyak dan ketika anggota kelompoknya sudah banyak mereka harus membentuk sebuah sistem nilai yang membatasi anggota kelompoknya agar terus mengabdi pada kelompoknya demi kebaikan semua anggota kelompok.

“Individualisme sangat diharamkan ketika itu, sebab kesendirian akan sangat berbahaya. Dari perspektif ini, diintegrasikan juga dengan teori ketidaksadaran kolektif Carl Jung maka manusia sudah tertanam dalam jiwanya untuk saling membantu demi kelangsungan hidup bersama. Manusia adalah makhluk sosial, oleh karena itulah narapidana yang dimasukkan penjara isolasi (sendiri dalam penjara yang besar) akan lebih cepat mati dibanding narapidana yang dimasukkan penjara biasa. Manusia memang sudah fitrahnya begitu,” lanjut Fadel.

Edo menambahkan bahwa kita harus hidup untuk orang lain, itulah pesan universal moralitas. Gendut juga mengatakan bahwa dengan membuat diri sendiri bermoral maka secara otomatis kita akan memunculkan sikap saling tolong-menolong. Abay pun mengutip hadits yang kurang lebih berbunyi “Orang yang paling berguna adalah mereka yang bermafaat untuk orang lain”.

Diskusi yang tadinya cukup membingungkan kini mendapat pencerahan. Forum ini seakan mendapat kemampuan untuk menangkap pesan universal moralitas yang tertanam dalam manusia.

Tiba-tiba Teddy menyatakan pendapatnya yang luar biasa, ia mengatakan bahwa menolong orang lain sama dengan menolong diri sendiri. Ia sepakat dengan Edo, bahwa inilah pesan universal moral. Kita harus terus menolong orang lain, karena hal tersebut berarti menolong diri sendiri. “Jika ingin menolong diri sendiri, maka tolonglah orang lain. Hal inilah yang menyelamatkan kita nanti,” ujar Teddy.

Fadel menambahkan bahwa hal itu adalah kaidah emas dalam agama. Hampir tiap agama menyatakan pesan itu, jika tidak salah Buddha pernah berpendapat bahwa untuk mencapai nirwana yang hakiki kita harus mengantarkan orang lain ke jalan mencapai nirwana, yaitu saling tolong menolong.

Tak terasa hari semakin malam, walaupun ada dua atau tiga di antara kami yang merasa tanggung dan masih ingin melanjutkan diskusi, mau tak mau diskusi hari inipun dirasa cukup untuk ditutup dengan pernyataan dari Teddy yang luar biasa tadi..

“Jika mau menolong diri sendiri, maka tolonglah orang lain”.

-

Post ini telah melalui berbagai tahap proses editing, termasuk beberapa perubahan dan penambahan isi yang sesuai demi penyempurnaan dari post blog yang berjudul sama oleh Fadel dalam blog-nya, dengan izin.

Saturday, November 15, 2014

Terlalu Sebentar

tentang aku mengenai kamu

mencampuri urusanmu

berlalu dua detik

tak adakah lagi?

aku ingin lagi

Tuesday, November 11, 2014

Di Balik Diam

Aku sedang terdiam dalam mencintai.

Diamku bukan karena kiranya ambisi sesaat, bukan juga telah berpaling pada perempuan lain atau bahkan menyerah.

Aku telah pasti menaruh pilihan untuk mencintainya sejak pertama kali bertukar pandang dengannya.

Dengannya yang bersayap kecil, jajaknya mengambang tenang di udara, menyebarkan benih putih kemilau di tiap langkahnya.

Diam bagiku bukan berarti tidak memperjuangkan. Aku tetap berjuang untuk menjadi pantas terlebih dahulu untuknya yang kurasa terlalu baik dan amat sempurna untukku. She's out of my league, and I'm already in the process to join her league.

Diam bagiku bukan berarti tidak mendoakan. Aku tetap berdoa agar ia senantiasa sehat, baik adanya, dan tetap berbahagia layaknya sedia kala biar senyum yang selalu menghias wajahnya tidak pernah luntur.

Diam bagiku bukan berarti tidak berencana. Aku tetap merangkai rencana, menenggelamkan diri pada takjubnya fantasi di dalam pejam belakang mata yang kuyakin dapat juga kuwujudkan riil, bahkan menjadi sempurna jauh dari sekedar khayal.

Diam bagiku bukan berarti tidak berani. Aku tetap berani menjadikan ia bakal tautan jiwa yang menyatu tanpa cela, tanpa beralih ke bakal sosok lain yang serupa sejak aku mengambil keputusanku sendiri. 

Berapapun orang yang dirasa telah membuka hatinya kepadaku, bagaimanapun orang yang dirasa pantas bagiku.

Tiada yang kurasa lebih membukakan hatiku dibanding ia, tiada pula yang kurasa cukup lebih pantas darinya.

Yang kubutuhkan hanyalah waktu. Time, ain't nothin, but time. It's a verse with no rhyme, and it all comes down to her.

Aku tidak takut jika pada akhirnya ia memilih orang lain karena aku tak bersegera. Dalam hal mencintai siapapun, aku rasa tak ada seorangpun yang akan memikirkan perasaannya sendiri.

Jika dengan tulus mencintai seseorang, kita pasti akan percaya bahwa pilihan yang diambil olehnya adalah benar sesuai hatinya. Jika dia memilih bahagia dengan keputusannya sendiri, kenapa kita yang mencintainya kalut dalam duka? Kenapa tidak ikut berbahagia?

Cinta bukan melulu soal memiliki. Cinta sesungguhnya adalah ikut bahagia mengetahui yang kita cintai berbahagia. Aku sendiri lebih memilih untuk tak dicintai jika aku tidak dapat membahagiakan siapapun, terutama untuk orang yang aku cintai.

Analoginya, jika kita menyukai bunga di suatu kebun dan memetiknya untuk dibawa pulang, akankah bunga itu tetap mengembang cantik dan wangi seperti adanya? Bunga yang telah kita petik memang akan menghiasi pojok kamar, membuat suasana menjadi feminin, lebih sedap dipandang. Tak peduli mau bagaimanapun kita merawatnya, hanya butuh kurang dari seminggu, bunga tersebut akan menjadi layu, warnanya menjadi keruh, tidak lagi wangi. Bunga itu akan mati dan berhenti menjadi apa yang kita sukai. Berakhir di tempat sampah.

Menjadikan kita sebenarnya egosentris. Hanya diri sendiri yang dipikirkan.

Adakah kita memikirkan diri sendiri dalam hal mencintai secara penuh? Kurasa tidak ada. Jika kamu tidak pernah merasakan cinta yang seperti itu, mungkin saja kamu belum pernah benar-benar mencintai. Begitu juga aku. Hanya berbekal yakin, itupun baru semenjak mengenalnya.

Kalau saja di antaramu ada yang berpikir hal di atas adalah termasuk cinta yang berlebihan, aku juga setuju. Walaupun memang segala hal yang berlebihan tak pernah baik, dan tak juga akan berakhir dengan baik. Tapi adakah sesungguhnya akhir yang baik dalam urusan mencintai dan dicintai? Kurasa tidak ada. Coba pikirkan kembali.. Apa yang dirasa baik untuk kita belum tentu dinilai baik oleh orang lain, kan? Tujuan kita hidup memang bukan untuk menyenangkan semua orang, dan sayangnya itu bukanlah hal yang baik.

Kembali lagi, cinta bukan melulu soal memiliki. Terkadang mewujudkan cinta hanya dalam bentuk mengapresiasi tiap keindahannya pun dibutuhkan.

Mungkin klise, mungkin kamu pernah atau sering mendengar ungkapan seperti itu. Menurutku setidaknya, yang aku yakini selama ini. Tak masuk akalkah bagimu?

Dalam hal mencintai dan dicintai, kita memang seringkali diharuskan untuk mengesampingkan akal sehat kita. Karena cinta berurusan dengan jiwa, sementara akal sehat selalu hanya menuntut definisi yang seharusnya dapat dipahami. Tidak semua hal bisa dipahami. Tentu saja hal yang tak dapat dipahami bukan saja rahasia Tuhan, melainkan juga cinta sebagai salah satunya.

Seperti kata temanku yang teringat, menyatu tak harus dalam satu ikatan. Cukup batin yang terekat kuat. Aku tetap percaya, ia untukku sebagai apapun itu. Entah sebagai kekasih, teman, atau apapun.

Bagi mereka, atau kamu yang tak menganggap diam itu emas; diam tak selalu buruk, ada kalanya diam akan menghasilkan kilau yang lebih cemerlang daripada emas.

-

Dengan menggunakan kutipan dari Jon Bon Jovi, Osho, dan Baidui.