Setiap makhluk hidup di dunia ini secara naluriah mengembangkan keseimbangan alam dengan lingkungan sekitarnya; tetapi manusia tidak. Manusia berpindah-pindah ke suatu daerah dan berkembang biak, sampai setiap sumber daya alam habis dan satu-satunya cara manusia dapat bertahan hidup adalah untuk menyebar ke daerah lain.
Tahukah kamu bahwa ada organisme lain di dunia ini yang mengikuti pola yang sama? Itu adalah virus. Manusia adalah penyakit, kanker di dunia ini. Di bumi ini.
Kita adalah wabah yang destruktif, menggerogoti pelan-pelan, tetapi pasti.
Tiada siapapun yang layak untuk hidup, setiap kehidupan adalah situasi "kecelakaan" yang terjadi karena pola kausal yang hanya bisa dipahami dalam retrospeksi.
Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts
Wednesday, September 23, 2015
Sunday, November 23, 2014
Mengapa Harus Bermoral?
Rabu, 22 Oktober 2014
Kami yang biasa menamakan atau diberi nama anak-anak “Belakang BEM” melakukan diskusi yang memang diadakan tiap minggu. Forum diskusi ini biasa disebut “Discussion Community”. Forum ini memang sempat vakum beberapa lama karena kesibukan politik dan masalah-masalah internal yang ada di kampus. Baru-baru ini saja kami mencoba kembali menghidupkan suasana diskusi yang sudah lama tidak diselenggarakan.
Topik diskusi kali ini telah ditentukan seminggu yang lalu ketika sedang nongkrong santai di pelataran gedung FISIP UIN, topik diskusi kali ini bertemakan “Mengapa Harus Bermoral?”. Topik yang cukup abstrak memang. Kami memiliki prinsip untuk membuka ruang sebebas-bebasnya dalam menyatakan pendapat dan membolehkan siapa saja dan/atau ide apa saja untuk dikontestasikan dalam forum diskusi ini. Tak penting rasanya nama forum diskusi dan nama kelompok kami, setiap orang bebas menamakan apa saja forum ini, yang jelas forum diskusi ini tidak sedikit pun membatasi ide.
Berangkat dari prinsip forum diskusi kami, maka tema-tema yang dilemparkan untuk menjadi tema diskusi tidak sedikitpun dibatasi. Hal apapun akan didiskusikan dengan serius tetapi tetap santai dan penuh canda. Diskusi kali ini dimulai ketika ba’da maghrib, setelah semua kelas kuliah selesai. Diskusi kali ini dihadiri oleh kurang lebih 11 orang, cukup ramai untuk sebuah forum diskusi santai.
Model diskusi kami menciptakan kondisi dimana setiap peserta diperbolehkan untuk berpendapat sesuai dengan penafsirannya, karena sesuai dengan prinsip kami bahwa Discussion Community membuka ruang sebebas-bebasnya dalam menyatakan pendapat dan membolehkan siapa saja dan ide apa saja untuk dikontestasikan dalam forum diskusi.
Satu prinsip lagi, mengambil dari ayat Al-Qur’an yang kurang lebih berbunyi “Tidak ada paksaan dalam beragama”. Kami menambahkan ayat tersebut untuk dijadikan prinsip kami, yaitu “Jika dalam agama pun tidak ada paksaan dalam beragama, apalagi berdiskusi”. Oleh karena itu, berpendapat atau tidak adalah hak peserta diskusi dan setiap peserta diskusi memiliki hak dan kewajiban yang sama, tidak ada perbedaan.
Setelah adzan Maghrib selesai dikumandangkan, logistik utama diskusi seperti rokok dan kopi sudah tersedia, maka diskusi dimulai. Pertama-tama diskusi dibuka oleh Edo sebagai moderator diskusi. Ia membuka forum dengan sebuah pertanyaan apa itu moral lalu meminta penafsiran seluruh peserta atas pertanyaan tersebut.
Gendut (Yuda) memulai bahasan diskusi dengan menyatakan bahwa moral adalah sebuah nilai positif, sebab nilai negatif disebut sebagai amoral, maka dari itu nilai negatif tidak lagi dapat disebut sebagai moral. Sedangkan Acong, dengan gaya berpikirnya yang sedikit nyeleneh, berpendapat bahwa sistem moral yang dianggap orang sebagai acuan moralitas adalah sebuah sistem yang justru membuat orang menjadi munafik.
Pendapat Acong membuat peserta diskusi kebingungan, lalu Fadel menafsirkan pendapat Acong menjadi lebih jelas. “Sebuah sistem moral yang melahirkan aturan-aturan yang menekan individu untuk berperilaku seringkali tidak sesuai dengan kemauan hati nurani individu. Individu berperilaku sesuai aturan hanya karena tekanan lingkungan bukan kemauan individu, hal inilah yang membuat Acong berpikir bahwa moralitas membuat orang menjadi munafik,” sebut Fadel dengan tafsirannya atas maksud Acong, disambut angguk paham peserta diskusi dan Acong sendiri.
Melanjutkan pertanyaan Edo tadi, Arya berpendapat bahwa moral adalah sesuatu yang menentukan sifat orang. Menurut Arya, moralitas adalah sebuah landasan seseorang dalam berpikir untuk menentukan sikap yang ketika terbiasa akan menjadi sifat.
Momon (Dery) sendiri berpendapat bahwa moral adalah tolak ukur baik tidaknya perilaku dan sifat seseorang. Risang masuk dengan pendapatnya yang sederhana tapi cukup komprehensif. Jika menurut Risang, moral sama dengan etika, yaitu nilai baik yang terdapat dalam manusia. Hampir mirip dengan pendapat Gendut. “Moral adalah sebuah sistem dalam masyarakat untuk menentukan baik-tidaknya perilaku yang dihasilkan individu dalam masyarakat,” lanjut Risang.
Kinkin (Ricky) mengatakan bahwa menurutnya moral adalah sesuatu yang mengikat dan sudah ada dalam masyarakat. Oleh sebab itu, manusia sebagai anggota masyarakat tidak akan bisa keluar dari sebuah sistem moralitas yang dihasilkan masyarakat untuk mengatur anggota-anggotanya tetap harmonis. Ajisoko sedikit menambahkan, baginya moral adalah separator. “Maksudnya, moral adalah pagar-pagar separator yang dibuat agar anggota masyarakat tidak melewati aturan-aturan yang sudah dibuat demi kebaikan keseluruhan masyarakat,” ujar Ajisoko.
Teddy mengiyakan pendapat Kinkin dan Aji. Menurut Teddy, moral adalah nilai yang tertanam dalam masyarakat dan secara langsung maupun tidak langsung tertanam pula pada setiap individu yang memang tidak akan mampu melepaskan diri dari masyarakat. Idek (Kaffa) juga mengemukakan pendapatnya, mirip dengan pendapat Risang. Ia menyatakan bahwa moral adalah nilai yang lahir dari masyarakat dan akhirnya tertanam dalam setiap individu.
Abay (Akbar) mencoba mengelaborasi pendapat teman-teman dari forum diskusi. Abay memuji pendapat kawan-kawan sebelumnya. Ia menyepakati beberapa pendapat sebelumnya yang menyatakan bahwa moral adalah tolak ukur baik-tidaknya sikap seseorang dan alat tolak ukur tersebut memang sudah tertanam dalam pikiran kolektif masyarakat.
Fadel melanjutkan diskusi melalui perspektif etimologi. Ia pertama-tama mengutip dari KBBI, moral adalah ajaran baik buruk yang ditanamkan masyarakat. “Keluar dari definisi operasional KBBI. Menurutnya moral adalah sebuah tolak ukur universal yang tertanam dalam setiap kepala manusia dan bukan ditanamkan oleh masyarakat. Jika benar moral tertanam dalam masyarakat maka sistem moral tiap budaya akan berbeda, tapi nyatanya setiap budaya memiliki nilai-nilai universal yang hampir sama,” lanjutnya.
Suasana forum diskusi yang berawal kalem mulai menjadi panas, alurnya yang mengalir lembut menjadi mandek. Peserta diskusi banyak yang tidak menyepakati pendapat Fadel dan meminta klarifikasi dan bukti-bukti konkret. “Sebab, faktanya terdapat banyak perbedaan nilai baik dan buruk dalam setiap budaya,” seru Abay.
Momon mengiyakan pendapat Abay, ia memberikan contoh di Eropa yang dimana budayanya tidak terlalu mempermasalahkan kedekatan pria dan wanita yang tentunya berbeda jauh dengan budaya di Asia. Masih banyak lagi contoh-contoh kontradiksi terkait masalah moralitas yang terikat oleh budaya masyarakat, sebut peserta diskusi yang lain.
Fadel menjelaskan, bahwa memang benar secara kasat mata terdapat banyak sekali kontradiksi nilai moral dalam setiap budaya. Ia mencontohkan sikap anak terhadap orangtua. “Dalam budaya Betawi, percakapan gue-loe anak terhadap orangtua adalah lumrah sedangkan dalam budaya lain tentu dianggap tidak sopan. Di Eropa, hubungan anak terhadap orangtua juga tidak sedekat hubungan orangtua-anak di Asia. Orang Eropa tidak perlu mencium tangan orangtuanya, jika kita melihat hanya dalam kacamata budaya Asia terkhusus Indonesia maka kita akan menyatakan bahwa itu adalah perbuatan yang tidak sopan,” balas Fadel.
Fadel kembali menambahkan bahwa kita harus memperkaya perspektif untuk melihat segala sesuatu, bagaimanapun bentuk hubungan yang tampak antara orangtua dan anak di setiap budaya, nilainya tetap sama bahwa anak harus menghormati orangtua.
”Secara bentuk atau yang terlihat mata, memang banyak sekali kontradiksi-kontradiksi nilai yang terjadi, tapi secara esensi atau isinya tetap sama. Itulah yang saya maksud dengan moral, sebuah nilai universal. Tertanam dalam setiap kepala manusia. Esensinya sama, tapi mengejewantah dalam setiap budaya dengan berbeda sesuai dengan faktor-faktor yang mempengaruhi budaya tersebut,” lanjut Fadel.
Edo sebagai moderator menengahi perselisihan-perselisihan dan mencoba untuk melanjutkan diskusi agar tidak hanya berkutat dalam masalah definisi. Fadel kembali memotong, ia berpendapat bahwa sebuah pembahasan tidak akan dapat didiskusikan jika tidak ditemukan definisi operasionalnya. Sebab, menurutnya jika pemahaman definisinya berbeda maka ke depannya akan terjadi banyak sekali salah paham.
Peserta diskusi menyepakati pendapat Fadel, sehingga diskusi tentang definisi moral masih dilanjutkan. Pendapat demi pendapat keluar dan tidak menemui kesepakatan tentang definisi operasional. Demi kelancaran diskusi, maka Abay kembali mengelaborasi pendapat teman-teman sebelumnya. Satu per satu peserta diskusi mengemukakan pendapatnya dan akhirnya disepakati definisi operasional dari moral, yaitu nilai yang dianggap pantas oleh masyarakat, yang terikat oleh ruang dan waktu.
Seluruh peserta diskusi pun setuju atas definisi operasional tersebut. Teddy mengatakan, biarlah definisi kita berbeda dari definisi orang kebanyakan, yang penting kita puas dan mendefinisikan sesuatu benar-benar dari kepala kita, tidak hanya mengikuti tradisi definisi yang ada.
Edo membenarkan pendapat Teddy, menurutnya kita memang minoritas dan tak apalah sebab mayoritas sering kali dapat digambarkan sebagai sekumpulan ikan mati yang mengikuti arus. “Bagaimanapun, Idek tetaplah minoritas di dalam minoritas,” ujar Edo mempercair suasana, sembari menunjuk Idek yang dianggap kaum minoritas karena memiliki kulit gelap seperti ras Negroid.
Fadel menambahkan bahwa penting menjadi minoritas, karena semua gerakan masif lahir dari kalangan minoritas. Ia mencontohkan Yesus yang hanya memiliki 12 murid tapi kini ajarannya dianut oleh lebih dari 2 milyar manusia di muka bumi. Begitupun Buddha, Nabi Muhammad SAW, dan orang hebat lainnya yang lahir dari rahim kalangan minoritas.
Akhirnya, kami, anak “Belakang BEM” patut berbangga menjadi kaum minoritas. Setelah menemukan definisi operasional ala kami, Edo sebagai moderator kembali melemparkan pertanyaan yang sesuai dengan tema diskusi kali ini sekaligus puncak pembahasan, yaitu “Mengapa Kita Harus Bermoral?”
Sesi kali ini berbeda dengan sesi pertama tadi, kali ini setiap orang tidak diberi antrean untuk berpendapat, tapi siapapun yang mau berpendapat boleh langsung menyatakan pendapatnya. Momon memulai pendapat bahwa kita harus bermoral agar dapat diterima masyarakat, karena secara tidak langsung jika kita tidak bermoral maka masyarakat tidak akan menerima kita dan otomatis kita dijauhi.
Hampir seluruh peserta diskusi menyepakati pernyataan Momon. Fadel menyatakan keberatannya, menurutnya di era kapitalisme global seperti sekarang ini, moral bukan acuan utama seseorang diterima atau tidak oleh masyarakat. Ia mengatakan bahwa acuan utama saat ini adalah uang, dimana ketika kita memiliki banyak uang maka kita akan bisa terus bertahan hidup. Faktanya banyak saat ini orang tidak bermoral yang melanggar nilai kepantasan masyarakat tapi tetap saja hidupnya enak-enakan.
Risang yang sepakat dengan pendapat Momon keberatan dengan pendapat Fadel. Menurutnya setiap orang harus bermoral, paling tidak untuk pergaulan. Jika kita tidak memiliki moral dalam bergaul maka tidak akan ada yang mau berdekatan dengan kita, jika hal itu sudah terjadi maka hal tersebut akan membunuh orang yang tidak bermoral itu.
Kinkin menyahut setuju dengan Risang, ia mengatakan bahwa sejahat apapun orang pasti tetap membutuhkan orang bermoral. “Sebagai contoh, pengedar narkoba akan membutuhkan orang baik atau bermoral untuk menyalurkan barang-barang haramnya, sebab jika tidak ada orang baik maka roda kehidupan jahat pun akan berhenti,” lanjut Kinkin.
Abay mengiyakan pendapat Kinkin, bagaimanapun pengusaha jahat akan membutuhkan orang yang bermoral untuk menjalankan roda uangnya. Sebab kejujuran adalah salah satu indikator dari orang yang bermoral.
Gendut menafsirkan bahwa berarti moral sangat bergantung dari konteks ruang dan waktu. Ia melanjutkan pendapatnya dengan menyatakan bahwa setiap kelompok memiliki sistem moral yang berbeda, sebagai contoh sistem moral kelompok perampok dan kelompok pemabuk memiliki perbedaan sistem moral. “Tapi terlepas dari itu semua, benar kata Fadel, ada sebuah nilai universal yang sama, yaitu mereka harus memiliki loyalitas terhadap kelompoknya dan saling menghargai walaupun secara bentuk berbeda, tetapi secara kasat mata akan sama jika kita mengambil esensinya,” lanjutnya.
Edo kembali memasuki arena kontestasi pendapat, “Rasanya pertanyaan mengapa kita harus bermoral terjawab sudah, tidak begitu sulit seperti yang dibayangkan. Mari kita coba kerucutkan lagi. Tiba-tiba muncul sebuah pertanyaan dari dalam kepala, darimana moral berasal?” tanya Edo, seakan peserta diskusi belum cukup pusing dari semenjak dimulainya forum ini.
Walaupun sebenarnya pertanyaan itu adalah sebuah momok pikir baru yang menarik untuk didiskusikan.. Darimana moral berasal? Suasana diskusi sempat hening barang sejenak, peserta diskusi terlihat berpikir keras untuk menjawab pertanyaan ini. Pencarian di Google tidak dianjurkan di forum ini, sebab kita ingin apapun ide yang keluar adalah orisinil dari kepala kita sebagai bentuk syukur kepada Tuhan yang sudah memberikan akal yang memiliki potensi luar biasa ini.
Fadel sebagai orang yang paling banyak membaca buku di antara peserta diskusi lain, akhirnya mulai menceritakan tentang sejarah manusia dalam perspektif evolusi Darwinisme. Menurutnya, manusia ketika usianya masih sangat muda dalam evolusinya dipaksa beradu kuat dengan hewan di alam bebas untuk bertahan. Tentunya jika tidak memiliki kelompok sosial, manusia akan sangat mudah mati dimakan hewan buas. Ketika itu peralatan manusia masih sangat terbatas sehingga manusia harus saling bekerja sama untuk tetap bertahan hidup. Saat manusia berkumpul membentuk kelompok, mereka berkembang biak menjadi banyak dan ketika anggota kelompoknya sudah banyak mereka harus membentuk sebuah sistem nilai yang membatasi anggota kelompoknya agar terus mengabdi pada kelompoknya demi kebaikan semua anggota kelompok.
“Individualisme sangat diharamkan ketika itu, sebab kesendirian akan sangat berbahaya. Dari perspektif ini, diintegrasikan juga dengan teori ketidaksadaran kolektif Carl Jung maka manusia sudah tertanam dalam jiwanya untuk saling membantu demi kelangsungan hidup bersama. Manusia adalah makhluk sosial, oleh karena itulah narapidana yang dimasukkan penjara isolasi (sendiri dalam penjara yang besar) akan lebih cepat mati dibanding narapidana yang dimasukkan penjara biasa. Manusia memang sudah fitrahnya begitu,” lanjut Fadel.
Edo menambahkan bahwa kita harus hidup untuk orang lain, itulah pesan universal moralitas. Gendut juga mengatakan bahwa dengan membuat diri sendiri bermoral maka secara otomatis kita akan memunculkan sikap saling tolong-menolong. Abay pun mengutip hadits yang kurang lebih berbunyi “Orang yang paling berguna adalah mereka yang bermafaat untuk orang lain”.
Diskusi yang tadinya cukup membingungkan kini mendapat pencerahan. Forum ini seakan mendapat kemampuan untuk menangkap pesan universal moralitas yang tertanam dalam manusia.
Tiba-tiba Teddy menyatakan pendapatnya yang luar biasa, ia mengatakan bahwa menolong orang lain sama dengan menolong diri sendiri. Ia sepakat dengan Edo, bahwa inilah pesan universal moral. Kita harus terus menolong orang lain, karena hal tersebut berarti menolong diri sendiri. “Jika ingin menolong diri sendiri, maka tolonglah orang lain. Hal inilah yang menyelamatkan kita nanti,” ujar Teddy.
Fadel menambahkan bahwa hal itu adalah kaidah emas dalam agama. Hampir tiap agama menyatakan pesan itu, jika tidak salah Buddha pernah berpendapat bahwa untuk mencapai nirwana yang hakiki kita harus mengantarkan orang lain ke jalan mencapai nirwana, yaitu saling tolong menolong.
Tak terasa hari semakin malam, walaupun ada dua atau tiga di antara kami yang merasa tanggung dan masih ingin melanjutkan diskusi, mau tak mau diskusi hari inipun dirasa cukup untuk ditutup dengan pernyataan dari Teddy yang luar biasa tadi..
“Jika mau menolong diri sendiri, maka tolonglah orang lain”.
-
Post ini telah melalui berbagai tahap proses editing, termasuk beberapa perubahan dan penambahan isi yang sesuai demi penyempurnaan dari post blog yang berjudul sama oleh Fadel dalam blog-nya, dengan izin.
Kami yang biasa menamakan atau diberi nama anak-anak “Belakang BEM” melakukan diskusi yang memang diadakan tiap minggu. Forum diskusi ini biasa disebut “Discussion Community”. Forum ini memang sempat vakum beberapa lama karena kesibukan politik dan masalah-masalah internal yang ada di kampus. Baru-baru ini saja kami mencoba kembali menghidupkan suasana diskusi yang sudah lama tidak diselenggarakan.
Topik diskusi kali ini telah ditentukan seminggu yang lalu ketika sedang nongkrong santai di pelataran gedung FISIP UIN, topik diskusi kali ini bertemakan “Mengapa Harus Bermoral?”. Topik yang cukup abstrak memang. Kami memiliki prinsip untuk membuka ruang sebebas-bebasnya dalam menyatakan pendapat dan membolehkan siapa saja dan/atau ide apa saja untuk dikontestasikan dalam forum diskusi ini. Tak penting rasanya nama forum diskusi dan nama kelompok kami, setiap orang bebas menamakan apa saja forum ini, yang jelas forum diskusi ini tidak sedikit pun membatasi ide.
Berangkat dari prinsip forum diskusi kami, maka tema-tema yang dilemparkan untuk menjadi tema diskusi tidak sedikitpun dibatasi. Hal apapun akan didiskusikan dengan serius tetapi tetap santai dan penuh canda. Diskusi kali ini dimulai ketika ba’da maghrib, setelah semua kelas kuliah selesai. Diskusi kali ini dihadiri oleh kurang lebih 11 orang, cukup ramai untuk sebuah forum diskusi santai.
Model diskusi kami menciptakan kondisi dimana setiap peserta diperbolehkan untuk berpendapat sesuai dengan penafsirannya, karena sesuai dengan prinsip kami bahwa Discussion Community membuka ruang sebebas-bebasnya dalam menyatakan pendapat dan membolehkan siapa saja dan ide apa saja untuk dikontestasikan dalam forum diskusi.
Satu prinsip lagi, mengambil dari ayat Al-Qur’an yang kurang lebih berbunyi “Tidak ada paksaan dalam beragama”. Kami menambahkan ayat tersebut untuk dijadikan prinsip kami, yaitu “Jika dalam agama pun tidak ada paksaan dalam beragama, apalagi berdiskusi”. Oleh karena itu, berpendapat atau tidak adalah hak peserta diskusi dan setiap peserta diskusi memiliki hak dan kewajiban yang sama, tidak ada perbedaan.
Setelah adzan Maghrib selesai dikumandangkan, logistik utama diskusi seperti rokok dan kopi sudah tersedia, maka diskusi dimulai. Pertama-tama diskusi dibuka oleh Edo sebagai moderator diskusi. Ia membuka forum dengan sebuah pertanyaan apa itu moral lalu meminta penafsiran seluruh peserta atas pertanyaan tersebut.
Gendut (Yuda) memulai bahasan diskusi dengan menyatakan bahwa moral adalah sebuah nilai positif, sebab nilai negatif disebut sebagai amoral, maka dari itu nilai negatif tidak lagi dapat disebut sebagai moral. Sedangkan Acong, dengan gaya berpikirnya yang sedikit nyeleneh, berpendapat bahwa sistem moral yang dianggap orang sebagai acuan moralitas adalah sebuah sistem yang justru membuat orang menjadi munafik.
Pendapat Acong membuat peserta diskusi kebingungan, lalu Fadel menafsirkan pendapat Acong menjadi lebih jelas. “Sebuah sistem moral yang melahirkan aturan-aturan yang menekan individu untuk berperilaku seringkali tidak sesuai dengan kemauan hati nurani individu. Individu berperilaku sesuai aturan hanya karena tekanan lingkungan bukan kemauan individu, hal inilah yang membuat Acong berpikir bahwa moralitas membuat orang menjadi munafik,” sebut Fadel dengan tafsirannya atas maksud Acong, disambut angguk paham peserta diskusi dan Acong sendiri.
Melanjutkan pertanyaan Edo tadi, Arya berpendapat bahwa moral adalah sesuatu yang menentukan sifat orang. Menurut Arya, moralitas adalah sebuah landasan seseorang dalam berpikir untuk menentukan sikap yang ketika terbiasa akan menjadi sifat.
Momon (Dery) sendiri berpendapat bahwa moral adalah tolak ukur baik tidaknya perilaku dan sifat seseorang. Risang masuk dengan pendapatnya yang sederhana tapi cukup komprehensif. Jika menurut Risang, moral sama dengan etika, yaitu nilai baik yang terdapat dalam manusia. Hampir mirip dengan pendapat Gendut. “Moral adalah sebuah sistem dalam masyarakat untuk menentukan baik-tidaknya perilaku yang dihasilkan individu dalam masyarakat,” lanjut Risang.
Kinkin (Ricky) mengatakan bahwa menurutnya moral adalah sesuatu yang mengikat dan sudah ada dalam masyarakat. Oleh sebab itu, manusia sebagai anggota masyarakat tidak akan bisa keluar dari sebuah sistem moralitas yang dihasilkan masyarakat untuk mengatur anggota-anggotanya tetap harmonis. Ajisoko sedikit menambahkan, baginya moral adalah separator. “Maksudnya, moral adalah pagar-pagar separator yang dibuat agar anggota masyarakat tidak melewati aturan-aturan yang sudah dibuat demi kebaikan keseluruhan masyarakat,” ujar Ajisoko.
Teddy mengiyakan pendapat Kinkin dan Aji. Menurut Teddy, moral adalah nilai yang tertanam dalam masyarakat dan secara langsung maupun tidak langsung tertanam pula pada setiap individu yang memang tidak akan mampu melepaskan diri dari masyarakat. Idek (Kaffa) juga mengemukakan pendapatnya, mirip dengan pendapat Risang. Ia menyatakan bahwa moral adalah nilai yang lahir dari masyarakat dan akhirnya tertanam dalam setiap individu.
Abay (Akbar) mencoba mengelaborasi pendapat teman-teman dari forum diskusi. Abay memuji pendapat kawan-kawan sebelumnya. Ia menyepakati beberapa pendapat sebelumnya yang menyatakan bahwa moral adalah tolak ukur baik-tidaknya sikap seseorang dan alat tolak ukur tersebut memang sudah tertanam dalam pikiran kolektif masyarakat.
Fadel melanjutkan diskusi melalui perspektif etimologi. Ia pertama-tama mengutip dari KBBI, moral adalah ajaran baik buruk yang ditanamkan masyarakat. “Keluar dari definisi operasional KBBI. Menurutnya moral adalah sebuah tolak ukur universal yang tertanam dalam setiap kepala manusia dan bukan ditanamkan oleh masyarakat. Jika benar moral tertanam dalam masyarakat maka sistem moral tiap budaya akan berbeda, tapi nyatanya setiap budaya memiliki nilai-nilai universal yang hampir sama,” lanjutnya.
Suasana forum diskusi yang berawal kalem mulai menjadi panas, alurnya yang mengalir lembut menjadi mandek. Peserta diskusi banyak yang tidak menyepakati pendapat Fadel dan meminta klarifikasi dan bukti-bukti konkret. “Sebab, faktanya terdapat banyak perbedaan nilai baik dan buruk dalam setiap budaya,” seru Abay.
Momon mengiyakan pendapat Abay, ia memberikan contoh di Eropa yang dimana budayanya tidak terlalu mempermasalahkan kedekatan pria dan wanita yang tentunya berbeda jauh dengan budaya di Asia. Masih banyak lagi contoh-contoh kontradiksi terkait masalah moralitas yang terikat oleh budaya masyarakat, sebut peserta diskusi yang lain.
Fadel menjelaskan, bahwa memang benar secara kasat mata terdapat banyak sekali kontradiksi nilai moral dalam setiap budaya. Ia mencontohkan sikap anak terhadap orangtua. “Dalam budaya Betawi, percakapan gue-loe anak terhadap orangtua adalah lumrah sedangkan dalam budaya lain tentu dianggap tidak sopan. Di Eropa, hubungan anak terhadap orangtua juga tidak sedekat hubungan orangtua-anak di Asia. Orang Eropa tidak perlu mencium tangan orangtuanya, jika kita melihat hanya dalam kacamata budaya Asia terkhusus Indonesia maka kita akan menyatakan bahwa itu adalah perbuatan yang tidak sopan,” balas Fadel.
Fadel kembali menambahkan bahwa kita harus memperkaya perspektif untuk melihat segala sesuatu, bagaimanapun bentuk hubungan yang tampak antara orangtua dan anak di setiap budaya, nilainya tetap sama bahwa anak harus menghormati orangtua.
”Secara bentuk atau yang terlihat mata, memang banyak sekali kontradiksi-kontradiksi nilai yang terjadi, tapi secara esensi atau isinya tetap sama. Itulah yang saya maksud dengan moral, sebuah nilai universal. Tertanam dalam setiap kepala manusia. Esensinya sama, tapi mengejewantah dalam setiap budaya dengan berbeda sesuai dengan faktor-faktor yang mempengaruhi budaya tersebut,” lanjut Fadel.
Edo sebagai moderator menengahi perselisihan-perselisihan dan mencoba untuk melanjutkan diskusi agar tidak hanya berkutat dalam masalah definisi. Fadel kembali memotong, ia berpendapat bahwa sebuah pembahasan tidak akan dapat didiskusikan jika tidak ditemukan definisi operasionalnya. Sebab, menurutnya jika pemahaman definisinya berbeda maka ke depannya akan terjadi banyak sekali salah paham.
Peserta diskusi menyepakati pendapat Fadel, sehingga diskusi tentang definisi moral masih dilanjutkan. Pendapat demi pendapat keluar dan tidak menemui kesepakatan tentang definisi operasional. Demi kelancaran diskusi, maka Abay kembali mengelaborasi pendapat teman-teman sebelumnya. Satu per satu peserta diskusi mengemukakan pendapatnya dan akhirnya disepakati definisi operasional dari moral, yaitu nilai yang dianggap pantas oleh masyarakat, yang terikat oleh ruang dan waktu.
Seluruh peserta diskusi pun setuju atas definisi operasional tersebut. Teddy mengatakan, biarlah definisi kita berbeda dari definisi orang kebanyakan, yang penting kita puas dan mendefinisikan sesuatu benar-benar dari kepala kita, tidak hanya mengikuti tradisi definisi yang ada.
Edo membenarkan pendapat Teddy, menurutnya kita memang minoritas dan tak apalah sebab mayoritas sering kali dapat digambarkan sebagai sekumpulan ikan mati yang mengikuti arus. “Bagaimanapun, Idek tetaplah minoritas di dalam minoritas,” ujar Edo mempercair suasana, sembari menunjuk Idek yang dianggap kaum minoritas karena memiliki kulit gelap seperti ras Negroid.
Fadel menambahkan bahwa penting menjadi minoritas, karena semua gerakan masif lahir dari kalangan minoritas. Ia mencontohkan Yesus yang hanya memiliki 12 murid tapi kini ajarannya dianut oleh lebih dari 2 milyar manusia di muka bumi. Begitupun Buddha, Nabi Muhammad SAW, dan orang hebat lainnya yang lahir dari rahim kalangan minoritas.
Akhirnya, kami, anak “Belakang BEM” patut berbangga menjadi kaum minoritas. Setelah menemukan definisi operasional ala kami, Edo sebagai moderator kembali melemparkan pertanyaan yang sesuai dengan tema diskusi kali ini sekaligus puncak pembahasan, yaitu “Mengapa Kita Harus Bermoral?”
Sesi kali ini berbeda dengan sesi pertama tadi, kali ini setiap orang tidak diberi antrean untuk berpendapat, tapi siapapun yang mau berpendapat boleh langsung menyatakan pendapatnya. Momon memulai pendapat bahwa kita harus bermoral agar dapat diterima masyarakat, karena secara tidak langsung jika kita tidak bermoral maka masyarakat tidak akan menerima kita dan otomatis kita dijauhi.
Hampir seluruh peserta diskusi menyepakati pernyataan Momon. Fadel menyatakan keberatannya, menurutnya di era kapitalisme global seperti sekarang ini, moral bukan acuan utama seseorang diterima atau tidak oleh masyarakat. Ia mengatakan bahwa acuan utama saat ini adalah uang, dimana ketika kita memiliki banyak uang maka kita akan bisa terus bertahan hidup. Faktanya banyak saat ini orang tidak bermoral yang melanggar nilai kepantasan masyarakat tapi tetap saja hidupnya enak-enakan.
Risang yang sepakat dengan pendapat Momon keberatan dengan pendapat Fadel. Menurutnya setiap orang harus bermoral, paling tidak untuk pergaulan. Jika kita tidak memiliki moral dalam bergaul maka tidak akan ada yang mau berdekatan dengan kita, jika hal itu sudah terjadi maka hal tersebut akan membunuh orang yang tidak bermoral itu.
Kinkin menyahut setuju dengan Risang, ia mengatakan bahwa sejahat apapun orang pasti tetap membutuhkan orang bermoral. “Sebagai contoh, pengedar narkoba akan membutuhkan orang baik atau bermoral untuk menyalurkan barang-barang haramnya, sebab jika tidak ada orang baik maka roda kehidupan jahat pun akan berhenti,” lanjut Kinkin.
Abay mengiyakan pendapat Kinkin, bagaimanapun pengusaha jahat akan membutuhkan orang yang bermoral untuk menjalankan roda uangnya. Sebab kejujuran adalah salah satu indikator dari orang yang bermoral.
Gendut menafsirkan bahwa berarti moral sangat bergantung dari konteks ruang dan waktu. Ia melanjutkan pendapatnya dengan menyatakan bahwa setiap kelompok memiliki sistem moral yang berbeda, sebagai contoh sistem moral kelompok perampok dan kelompok pemabuk memiliki perbedaan sistem moral. “Tapi terlepas dari itu semua, benar kata Fadel, ada sebuah nilai universal yang sama, yaitu mereka harus memiliki loyalitas terhadap kelompoknya dan saling menghargai walaupun secara bentuk berbeda, tetapi secara kasat mata akan sama jika kita mengambil esensinya,” lanjutnya.
Edo kembali memasuki arena kontestasi pendapat, “Rasanya pertanyaan mengapa kita harus bermoral terjawab sudah, tidak begitu sulit seperti yang dibayangkan. Mari kita coba kerucutkan lagi. Tiba-tiba muncul sebuah pertanyaan dari dalam kepala, darimana moral berasal?” tanya Edo, seakan peserta diskusi belum cukup pusing dari semenjak dimulainya forum ini.
Walaupun sebenarnya pertanyaan itu adalah sebuah momok pikir baru yang menarik untuk didiskusikan.. Darimana moral berasal? Suasana diskusi sempat hening barang sejenak, peserta diskusi terlihat berpikir keras untuk menjawab pertanyaan ini. Pencarian di Google tidak dianjurkan di forum ini, sebab kita ingin apapun ide yang keluar adalah orisinil dari kepala kita sebagai bentuk syukur kepada Tuhan yang sudah memberikan akal yang memiliki potensi luar biasa ini.
Fadel sebagai orang yang paling banyak membaca buku di antara peserta diskusi lain, akhirnya mulai menceritakan tentang sejarah manusia dalam perspektif evolusi Darwinisme. Menurutnya, manusia ketika usianya masih sangat muda dalam evolusinya dipaksa beradu kuat dengan hewan di alam bebas untuk bertahan. Tentunya jika tidak memiliki kelompok sosial, manusia akan sangat mudah mati dimakan hewan buas. Ketika itu peralatan manusia masih sangat terbatas sehingga manusia harus saling bekerja sama untuk tetap bertahan hidup. Saat manusia berkumpul membentuk kelompok, mereka berkembang biak menjadi banyak dan ketika anggota kelompoknya sudah banyak mereka harus membentuk sebuah sistem nilai yang membatasi anggota kelompoknya agar terus mengabdi pada kelompoknya demi kebaikan semua anggota kelompok.
“Individualisme sangat diharamkan ketika itu, sebab kesendirian akan sangat berbahaya. Dari perspektif ini, diintegrasikan juga dengan teori ketidaksadaran kolektif Carl Jung maka manusia sudah tertanam dalam jiwanya untuk saling membantu demi kelangsungan hidup bersama. Manusia adalah makhluk sosial, oleh karena itulah narapidana yang dimasukkan penjara isolasi (sendiri dalam penjara yang besar) akan lebih cepat mati dibanding narapidana yang dimasukkan penjara biasa. Manusia memang sudah fitrahnya begitu,” lanjut Fadel.
Edo menambahkan bahwa kita harus hidup untuk orang lain, itulah pesan universal moralitas. Gendut juga mengatakan bahwa dengan membuat diri sendiri bermoral maka secara otomatis kita akan memunculkan sikap saling tolong-menolong. Abay pun mengutip hadits yang kurang lebih berbunyi “Orang yang paling berguna adalah mereka yang bermafaat untuk orang lain”.
Diskusi yang tadinya cukup membingungkan kini mendapat pencerahan. Forum ini seakan mendapat kemampuan untuk menangkap pesan universal moralitas yang tertanam dalam manusia.
Tiba-tiba Teddy menyatakan pendapatnya yang luar biasa, ia mengatakan bahwa menolong orang lain sama dengan menolong diri sendiri. Ia sepakat dengan Edo, bahwa inilah pesan universal moral. Kita harus terus menolong orang lain, karena hal tersebut berarti menolong diri sendiri. “Jika ingin menolong diri sendiri, maka tolonglah orang lain. Hal inilah yang menyelamatkan kita nanti,” ujar Teddy.
Fadel menambahkan bahwa hal itu adalah kaidah emas dalam agama. Hampir tiap agama menyatakan pesan itu, jika tidak salah Buddha pernah berpendapat bahwa untuk mencapai nirwana yang hakiki kita harus mengantarkan orang lain ke jalan mencapai nirwana, yaitu saling tolong menolong.
Tak terasa hari semakin malam, walaupun ada dua atau tiga di antara kami yang merasa tanggung dan masih ingin melanjutkan diskusi, mau tak mau diskusi hari inipun dirasa cukup untuk ditutup dengan pernyataan dari Teddy yang luar biasa tadi..
“Jika mau menolong diri sendiri, maka tolonglah orang lain”.
-
Post ini telah melalui berbagai tahap proses editing, termasuk beberapa perubahan dan penambahan isi yang sesuai demi penyempurnaan dari post blog yang berjudul sama oleh Fadel dalam blog-nya, dengan izin.
Tuesday, November 11, 2014
Di Balik Diam
Aku sedang terdiam dalam mencintai.
Diamku bukan karena kiranya ambisi sesaat, bukan juga telah berpaling pada perempuan lain atau bahkan menyerah.
Aku telah pasti menaruh pilihan untuk mencintainya sejak pertama kali bertukar pandang dengannya.
Dengannya yang bersayap kecil, jajaknya mengambang tenang di udara, menyebarkan benih putih kemilau di tiap langkahnya.
Diam bagiku bukan berarti tidak memperjuangkan. Aku tetap berjuang untuk menjadi pantas terlebih dahulu untuknya yang kurasa terlalu baik dan amat sempurna untukku. She's out of my league, and I'm already in the process to join her league.
Diam bagiku bukan berarti tidak mendoakan. Aku tetap berdoa agar ia senantiasa sehat, baik adanya, dan tetap berbahagia layaknya sedia kala biar senyum yang selalu menghias wajahnya tidak pernah luntur.
Diam bagiku bukan berarti tidak berencana. Aku tetap merangkai rencana, menenggelamkan diri pada takjubnya fantasi di dalam pejam belakang mata yang kuyakin dapat juga kuwujudkan riil, bahkan menjadi sempurna jauh dari sekedar khayal.
Diam bagiku bukan berarti tidak berani. Aku tetap berani menjadikan ia bakal tautan jiwa yang menyatu tanpa cela, tanpa beralih ke bakal sosok lain yang serupa sejak aku mengambil keputusanku sendiri.
Berapapun orang yang dirasa telah membuka hatinya kepadaku, bagaimanapun orang yang dirasa pantas bagiku.
Tiada yang kurasa lebih membukakan hatiku dibanding ia, tiada pula yang kurasa cukup lebih pantas darinya.
Yang kubutuhkan hanyalah waktu. Time, ain't nothin, but time. It's a verse with no rhyme, and it all comes down to her.
Aku tidak takut jika pada akhirnya ia memilih orang lain karena aku tak bersegera. Dalam hal mencintai siapapun, aku rasa tak ada seorangpun yang akan memikirkan perasaannya sendiri.
Jika dengan tulus mencintai seseorang, kita pasti akan percaya bahwa pilihan yang diambil olehnya adalah benar sesuai hatinya. Jika dia memilih bahagia dengan keputusannya sendiri, kenapa kita yang mencintainya kalut dalam duka? Kenapa tidak ikut berbahagia?
Cinta bukan melulu soal memiliki. Cinta sesungguhnya adalah ikut bahagia mengetahui yang kita cintai berbahagia. Aku sendiri lebih memilih untuk tak dicintai jika aku tidak dapat membahagiakan siapapun, terutama untuk orang yang aku cintai.
Cinta bukan melulu soal memiliki. Cinta sesungguhnya adalah ikut bahagia mengetahui yang kita cintai berbahagia. Aku sendiri lebih memilih untuk tak dicintai jika aku tidak dapat membahagiakan siapapun, terutama untuk orang yang aku cintai.
Analoginya, jika kita menyukai bunga di suatu kebun dan memetiknya untuk dibawa pulang, akankah bunga itu tetap mengembang cantik dan wangi seperti adanya? Bunga yang telah kita petik memang akan menghiasi pojok kamar, membuat suasana menjadi feminin, lebih sedap dipandang. Tak peduli mau bagaimanapun kita merawatnya, hanya butuh kurang dari seminggu, bunga tersebut akan menjadi layu, warnanya menjadi keruh, tidak lagi wangi. Bunga itu akan mati dan berhenti menjadi apa yang kita sukai. Berakhir di tempat sampah.
Menjadikan kita sebenarnya egosentris. Hanya diri sendiri yang dipikirkan.
Adakah kita memikirkan diri sendiri dalam hal mencintai secara penuh? Kurasa tidak ada. Jika kamu tidak pernah merasakan cinta yang seperti itu, mungkin saja kamu belum pernah benar-benar mencintai. Begitu juga aku. Hanya berbekal yakin, itupun baru semenjak mengenalnya.
Kalau saja di antaramu ada yang berpikir hal di atas adalah termasuk cinta yang berlebihan, aku juga setuju. Walaupun memang segala hal yang berlebihan tak pernah baik, dan tak juga akan berakhir dengan baik. Tapi adakah sesungguhnya akhir yang baik dalam urusan mencintai dan dicintai? Kurasa tidak ada. Coba pikirkan kembali.. Apa yang dirasa baik untuk kita belum tentu dinilai baik oleh orang lain, kan? Tujuan kita hidup memang bukan untuk menyenangkan semua orang, dan sayangnya itu bukanlah hal yang baik.
Kembali lagi, cinta bukan melulu soal memiliki. Terkadang mewujudkan cinta hanya dalam bentuk mengapresiasi tiap keindahannya pun dibutuhkan.
Mungkin klise, mungkin kamu pernah atau sering mendengar ungkapan seperti itu. Menurutku setidaknya, yang aku yakini selama ini. Tak masuk akalkah bagimu?
Dalam hal mencintai dan dicintai, kita memang seringkali diharuskan untuk mengesampingkan akal sehat kita. Karena cinta berurusan dengan jiwa, sementara akal sehat selalu hanya menuntut definisi yang seharusnya dapat dipahami. Tidak semua hal bisa dipahami. Tentu saja hal yang tak dapat dipahami bukan saja rahasia Tuhan, melainkan juga cinta sebagai salah satunya.
Seperti kata temanku yang teringat, menyatu tak harus dalam satu ikatan. Cukup batin yang terekat kuat. Aku tetap percaya, ia untukku sebagai apapun itu. Entah sebagai kekasih, teman, atau apapun.
Bagi mereka, atau kamu yang tak menganggap diam itu emas; diam tak selalu buruk, ada kalanya diam akan menghasilkan kilau yang lebih cemerlang daripada emas.
-
Dengan menggunakan kutipan dari Jon Bon Jovi, Osho, dan Baidui.
-
Dengan menggunakan kutipan dari Jon Bon Jovi, Osho, dan Baidui.
Monday, October 27, 2014
Bahagia
Post ini adalah tugas individu yang diberikan saat mata kuliah Kesehatan Mental semester empat lalu, yang tak sengaja ditemukan saat iseng membuka-buka folder kuliah. Berisikan tiga pertanyaan sederhana berkaitan dengan kebahagiaan, tugas ini merupakan yang terbaik selama saya berkuliah psikologi, dengan mengentahkan jawabnya benar atau salah. Silahkan dibaca jika ingin mengenali saya lebih dalam, syukur jika dapat sedikit menginspirasi. :)
1. Apakah saya bahagia?
Saya berbahagia dengan hidup saya saat ini. Keluarga yang akan selalu ada untuk saya, teman-teman yang menyenangkan karena kami saling memahami dan mengerti satu sama lain, membuat lubang-lubang lain di celah hidup menjadi tidak terlihat.
Saya juga termasuk orang yang sangat beruntung karena dibandingkan banyak orang lain yang belum juga menemukan gairah hidupnya, saya sudah telah lama menemukan passion saya dalam berkehidupan, yaitu bermusik, dan dengan bidang akademiknya yaitu psikologi.
Musik adalah jiwa saya. Musik itu indah, penuh warna, tak terbatas. Layaknya harmonisasi ribuan galaksi yang berputar pelan, Anda bisa membuatnya diam, melompat-lompat riang, berlari, atau bahkan saling bertubrukan diiringi ledakan maha dahsyat. Keunikan musik dan potensi-potensi yang dapat digali darinya yang membuatku tak pernah lelah tersesat di dalamnya.
Saya juga memutuskan untuk mencoba menggeluti dunia psikologi karena saya ingin menjadi life observer. Memang tak berbeda jauh dengan memahami ranah filsafat, namun dengan berfokus mempelajari, mengerti ketetapan-ketetapannya dan mengetahui kemungkinan-kemungkinan bagaimana "jiwa" manusia dapat bertransformasi menjadi apa saja, maka setidaknya menurut saya, Anda sudah bisa dibilang memahami sebagian arti hidup sebenarnya. Anda lebih dapat mengendalikan diri sendiri karena anda memahaminya luar dalam, pun orang lain. Karenanya menjadi life observer, seharusnya Anda bisa menjadi apa saja. Inilah keyakinan yang saya percayai dari dulu hingga sekarang.
Dengan tidak berfokus kepada kekurangan-kekurangan, dan terus menemukan dan memaksimalkan potensi-potensi yang ada dalam diri sendiri, maka sekali lagi, saya putuskan saya berbahagia saat ini.
2. Apa saja yang membuat saya bahagia?
Kehidupan sosial saya mungkin menjadi salah satu faktor terbesar saya dalam membuat saya bahagia. Adanya apresiasi, pengakuan diri dan konformitas yang terjadi di lingkungan sayalah yang berpengaruh besar dalam membuat saya bahagia.
Selain itu, penyaluran hobi dan minat saya pun tidak terganggu. Bahkan bisa dibilang, mimpi terbesar saya untuk menjadi musisi sudah terbuka lebar untuk saya saat ini. Saya telah bertemu dengan banyak orang-orang hebat dalam bidang musik dan bahkan bisa berteman dekat serta bekerjasama dengan sebagian orang-orang tersebut, yang secara jelas menginspirasi saya untuk terus maju apapun halangannya.
Sekali lagi, karena adanya mimpi. Mimpi-mimpi besar saya yang membuat saya bahagia. Saya hidup untuk mengejar mimpi, dan saya rasa hidup dimaksudkan untuk itu. Dari kecil saya terus didoktrin dan diberi persepsi untuk selalu optimis oleh keluarga saya, dan mereka berhasil. Tidak ada yang tidak mungkin selama kita berniat untuk mengusahakannya. Untuk memantaskan diri atas mimpi-mimpi kita.
3. Apa yang akan saya lakukan agar saya merasa bahagia?
Mimpi-mimpi saya mengajarkan saya secara tidak langsung bahwa hidup ini sangat bermakna. Saya berkepribadian dan berlaku bagaimana adanya saat ini karena adanya dorongan untuk mencapai mimpi itu. Seperti yang telah saya ucapkan di atas, saya terus mengupayakan agar menjadi pantas bagi mimpi-mimpi saya, dan saya pun merasa bahagia untuk melakukannya, tanpa melenceng dari apa yang benar. Saya terus mencoba untuk berikhtiar di jalan-Nya.
Meyakini Allah selalu mendengar doa kita pun membuat saya bahagia, dan hal itu sudah banyak terbukti di dalam kehidupan saya. Di sini saya mengakui kuasa Allah atas semua hal yang terjadi kepada saya, karena saya mempercayai adanya Law of Attraction, adanya hukum tarik-menarik yang telah diturunkan kepada Allah untuk umatnya.
Hukum tarik-menarik disini sebenarnya tidak terjadi layaknya keajaiban seperti kedengarannya, melainkan sangat sederhana, dan sudah saya buktikan dari dulu. Jika kita menginginkan sesuatu, bayangkanlah hal itu terus-menerus, dan bahkan jika perlu bersenanglah seperti keinginan kita sudah terkabul. Ucapkan dalam doa, pikirkan sebelum tidur, batinkan kembali ketika bangun dari tidur. Bersungguh-sungguhlah dalam mengharapkan sesuatu, maka ilmiahnya, sadar ataupun tidak, Anda pun akan bertanggung jawab dalam mewujudkan keinginan Anda tanpa merasa tertekan dan sampai akhirnya takjub ketika menjadi nyata.
Dari dulu ketika saya ingin masuk SMP Negeri favorit, saya sungguh sangat menginginkannya, tapi apakah saya hanya berharap saja, lalu diam? Saya pun berusaha untuk memantaskan diri agar hal itu dapat terjadi, sehingga saya bisa rajin dalam belajar, sampai akhirnya keinginan itu tercapai. Hal itu pun terulang ketika saya ingin masuk SMA Negeri dan juga untuk berkuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sekali lagi, sadar maupun tidak, jika kita benar-benar bersungguh-sungguh, apapun pasti dapat tercapai.
Namun ada satu hal disini yang saya perhatikan, jika keinginan kita mungkin tidak tercapai padahal kita sudah bersungguh-sungguh, yakini saja Allah sudah merencanakan sesuatu yang lebih baik dari apa yang sebenarnya kita inginkan, karena sesungguhnya jenis doa itu ada 3 macam: 1. Yang dikabulkan, 2. Yang ditunda, 3. Yang diganti dengan yang lebih baik lagi. Saya meyakini itu dan saya pun dapat hidup bahagia tanpa berlama-lama larut dalam kesedihan.
Intinya, jika kita optimis dalam memandang sesuatu dalam hidup, kita pun dapat melihat segala hikmah dari apapun yang terjadi. Itu yang orangtua saya ajarkan semenjak kecil, dan saya tetap memegang teguh kalimat-kalimat itu sampai sekarang, semata-mata agar saya dapat menjadi apa yang saya inginkan, dan supaya agar saya bahagia.
1. Apakah saya bahagia?
Saya berbahagia dengan hidup saya saat ini. Keluarga yang akan selalu ada untuk saya, teman-teman yang menyenangkan karena kami saling memahami dan mengerti satu sama lain, membuat lubang-lubang lain di celah hidup menjadi tidak terlihat.
Saya juga termasuk orang yang sangat beruntung karena dibandingkan banyak orang lain yang belum juga menemukan gairah hidupnya, saya sudah telah lama menemukan passion saya dalam berkehidupan, yaitu bermusik, dan dengan bidang akademiknya yaitu psikologi.
Musik adalah jiwa saya. Musik itu indah, penuh warna, tak terbatas. Layaknya harmonisasi ribuan galaksi yang berputar pelan, Anda bisa membuatnya diam, melompat-lompat riang, berlari, atau bahkan saling bertubrukan diiringi ledakan maha dahsyat. Keunikan musik dan potensi-potensi yang dapat digali darinya yang membuatku tak pernah lelah tersesat di dalamnya.
Saya juga memutuskan untuk mencoba menggeluti dunia psikologi karena saya ingin menjadi life observer. Memang tak berbeda jauh dengan memahami ranah filsafat, namun dengan berfokus mempelajari, mengerti ketetapan-ketetapannya dan mengetahui kemungkinan-kemungkinan bagaimana "jiwa" manusia dapat bertransformasi menjadi apa saja, maka setidaknya menurut saya, Anda sudah bisa dibilang memahami sebagian arti hidup sebenarnya. Anda lebih dapat mengendalikan diri sendiri karena anda memahaminya luar dalam, pun orang lain. Karenanya menjadi life observer, seharusnya Anda bisa menjadi apa saja. Inilah keyakinan yang saya percayai dari dulu hingga sekarang.
Dengan tidak berfokus kepada kekurangan-kekurangan, dan terus menemukan dan memaksimalkan potensi-potensi yang ada dalam diri sendiri, maka sekali lagi, saya putuskan saya berbahagia saat ini.
2. Apa saja yang membuat saya bahagia?
Kehidupan sosial saya mungkin menjadi salah satu faktor terbesar saya dalam membuat saya bahagia. Adanya apresiasi, pengakuan diri dan konformitas yang terjadi di lingkungan sayalah yang berpengaruh besar dalam membuat saya bahagia.
Selain itu, penyaluran hobi dan minat saya pun tidak terganggu. Bahkan bisa dibilang, mimpi terbesar saya untuk menjadi musisi sudah terbuka lebar untuk saya saat ini. Saya telah bertemu dengan banyak orang-orang hebat dalam bidang musik dan bahkan bisa berteman dekat serta bekerjasama dengan sebagian orang-orang tersebut, yang secara jelas menginspirasi saya untuk terus maju apapun halangannya.
Sekali lagi, karena adanya mimpi. Mimpi-mimpi besar saya yang membuat saya bahagia. Saya hidup untuk mengejar mimpi, dan saya rasa hidup dimaksudkan untuk itu. Dari kecil saya terus didoktrin dan diberi persepsi untuk selalu optimis oleh keluarga saya, dan mereka berhasil. Tidak ada yang tidak mungkin selama kita berniat untuk mengusahakannya. Untuk memantaskan diri atas mimpi-mimpi kita.
3. Apa yang akan saya lakukan agar saya merasa bahagia?
Mimpi-mimpi saya mengajarkan saya secara tidak langsung bahwa hidup ini sangat bermakna. Saya berkepribadian dan berlaku bagaimana adanya saat ini karena adanya dorongan untuk mencapai mimpi itu. Seperti yang telah saya ucapkan di atas, saya terus mengupayakan agar menjadi pantas bagi mimpi-mimpi saya, dan saya pun merasa bahagia untuk melakukannya, tanpa melenceng dari apa yang benar. Saya terus mencoba untuk berikhtiar di jalan-Nya.
Meyakini Allah selalu mendengar doa kita pun membuat saya bahagia, dan hal itu sudah banyak terbukti di dalam kehidupan saya. Di sini saya mengakui kuasa Allah atas semua hal yang terjadi kepada saya, karena saya mempercayai adanya Law of Attraction, adanya hukum tarik-menarik yang telah diturunkan kepada Allah untuk umatnya.
Hukum tarik-menarik disini sebenarnya tidak terjadi layaknya keajaiban seperti kedengarannya, melainkan sangat sederhana, dan sudah saya buktikan dari dulu. Jika kita menginginkan sesuatu, bayangkanlah hal itu terus-menerus, dan bahkan jika perlu bersenanglah seperti keinginan kita sudah terkabul. Ucapkan dalam doa, pikirkan sebelum tidur, batinkan kembali ketika bangun dari tidur. Bersungguh-sungguhlah dalam mengharapkan sesuatu, maka ilmiahnya, sadar ataupun tidak, Anda pun akan bertanggung jawab dalam mewujudkan keinginan Anda tanpa merasa tertekan dan sampai akhirnya takjub ketika menjadi nyata.
Dari dulu ketika saya ingin masuk SMP Negeri favorit, saya sungguh sangat menginginkannya, tapi apakah saya hanya berharap saja, lalu diam? Saya pun berusaha untuk memantaskan diri agar hal itu dapat terjadi, sehingga saya bisa rajin dalam belajar, sampai akhirnya keinginan itu tercapai. Hal itu pun terulang ketika saya ingin masuk SMA Negeri dan juga untuk berkuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sekali lagi, sadar maupun tidak, jika kita benar-benar bersungguh-sungguh, apapun pasti dapat tercapai.
Namun ada satu hal disini yang saya perhatikan, jika keinginan kita mungkin tidak tercapai padahal kita sudah bersungguh-sungguh, yakini saja Allah sudah merencanakan sesuatu yang lebih baik dari apa yang sebenarnya kita inginkan, karena sesungguhnya jenis doa itu ada 3 macam: 1. Yang dikabulkan, 2. Yang ditunda, 3. Yang diganti dengan yang lebih baik lagi. Saya meyakini itu dan saya pun dapat hidup bahagia tanpa berlama-lama larut dalam kesedihan.
Intinya, jika kita optimis dalam memandang sesuatu dalam hidup, kita pun dapat melihat segala hikmah dari apapun yang terjadi. Itu yang orangtua saya ajarkan semenjak kecil, dan saya tetap memegang teguh kalimat-kalimat itu sampai sekarang, semata-mata agar saya dapat menjadi apa yang saya inginkan, dan supaya agar saya bahagia.
Saturday, September 20, 2014
Spesial
Tidak ada seorang anak pun yang sejatinya bodoh. Segala anak yang tidak sesuai dengan standar normatif seperti tidak lihai dalam menguasai bidang akademik layaknya ilmu eksakta dan semacamnya itu tidak bodoh.
Cap bodoh seringkali diberikan ketika si anak tidak mampu mencapai target nilai yang diberlakukan. Faktanya, sekali lagi, kepandaian anak hanya terukur secara nilai-nilai akademik. Persepsi mayoritas akan terbentuk seperti itu tanpa melihat dari sisi lain.
Kemarahan orang tua kepada anak demi menggalakkan perilaku dan motivasi belajar si anak seringkali tak efektif, membuat belajar menjadi aktivitas yang dipaksakan dan tak disukai anak. Padahal, setiap anak akan belajar jika aktivitas pembelajaran itu menyenangkan dan bermakna baginya.
Peran orang tua dan guru seharusnya bisa memberikan pendidikan yang tidak disamaratakan karena tetap bahwa setiap manusia diciptakan dengan berbagai kelebihan dan kekurangan serta bakat dan potensi kecerdasan yang berbeda-beda.
Manusia bukan seperti pensil, yang tiap kegunaannya sama. Pengajar/pendidik bukanlah layaknya rautan, menjadikan tiap pensilnya menjadi runcing agar dapat digunakan untuk sekedar menulis atau menggambar. Manusia lebih dari itu, harus lebih dari sekedar itu.
Banyak sekali aspek-aspek yang tidak bisa diukur oleh sistem pendidikan kita, yang seharusnya disadari oleh mereka. Aspek-aspek seperti pemikiran kritis, kreativitas, pemecahan masalah, kepemimpinan, kemampuan berargumentasi, dan banyak lagi lain halnya. Tak hanya berfokus kepada nilai yang akan dan telah dicapai.
Kebanyakan dari kita dididik, dikotak-kotakkan, diseragamkan. Kejar sukses sesuai standar sosial (berprestasi di bidang yang ‘umum’). Taat aturan dan jauhi larangan, tanpa mempertanyakan.
Menghasilkan sebagian besar kita akhirnya menjadi manusia dengan mental pekerja, cari aman dan sering mendiamkan kesalahan. Banyak menuntut kelayakan tapi takut untuk benar-benar memperjuangkan.
Tiap anak itu spesial, dibutuhkan pula usaha yang spesial supaya tiap anaknya terus tumbuh menjadi manusia yang spesial.
-
Ada yang tidak lantang dalam berbicara, tidak pandai dalam mengolah dan menyuarakan kata, namun dapat menuangkan segala aspirasi yang ada di dalam kepalanya dengan mudah melalui tulisan.
Ada yang tidak cukup lihai dalam berolahraga, namun sekiranya mampu menuaikan nada indah melalui olah vokalnya, maupun juga permainan musiknya yang elok.
Ada yang selalu diam, namun kepalanya selalu berisik oleh galaksi-galaksi yang berputar miring, berhimpitan dalam manisnya keterikatan harmoni yang mengaturnya untuk bertabrakan sehingga seringkali timbul ledakan-ledakan yang mahadahsyat nan menakjubkan.
Ada yang selalu malas, namun sesungguhnya selalu sibuk berjuang untuk terbang jauh, meninggalkan banyak orang yang hanya berlari karena mereka beranggap hal itu merupakan satu-satunya cara terbaik menuju masa depan yang berlimpahkan cahaya matahari.
Ada yang selalu jatuh karena diremehkan, gagal aral melintang, eksistensi terpinggirkan, namun ada suara teriakan tersembunyi jauh di dalam hatinya yang tak pernah sunyi, memanaskan selalu bara gelora keyakinan bahwa suatu hari nanti akan datang masa dimana ianya berdiri tegak menantang langit batas, menembus asa yang hampir tidak mungkin, sehingga cap bodoh yang melekat akan menjadi sepatah kata tanpa arti.
Karena dia spesial.
Tiap anak itu spesial, dibutuhkan pula usaha yang spesial supaya tiap anaknya terus tumbuh menjadi manusia yang spesial.
-
Ada yang tidak lantang dalam berbicara, tidak pandai dalam mengolah dan menyuarakan kata, namun dapat menuangkan segala aspirasi yang ada di dalam kepalanya dengan mudah melalui tulisan.
Ada yang tidak cukup lihai dalam berolahraga, namun sekiranya mampu menuaikan nada indah melalui olah vokalnya, maupun juga permainan musiknya yang elok.
Ada yang selalu diam, namun kepalanya selalu berisik oleh galaksi-galaksi yang berputar miring, berhimpitan dalam manisnya keterikatan harmoni yang mengaturnya untuk bertabrakan sehingga seringkali timbul ledakan-ledakan yang mahadahsyat nan menakjubkan.
Ada yang selalu malas, namun sesungguhnya selalu sibuk berjuang untuk terbang jauh, meninggalkan banyak orang yang hanya berlari karena mereka beranggap hal itu merupakan satu-satunya cara terbaik menuju masa depan yang berlimpahkan cahaya matahari.
Ada yang selalu jatuh karena diremehkan, gagal aral melintang, eksistensi terpinggirkan, namun ada suara teriakan tersembunyi jauh di dalam hatinya yang tak pernah sunyi, memanaskan selalu bara gelora keyakinan bahwa suatu hari nanti akan datang masa dimana ianya berdiri tegak menantang langit batas, menembus asa yang hampir tidak mungkin, sehingga cap bodoh yang melekat akan menjadi sepatah kata tanpa arti.
Karena dia spesial.
Wednesday, June 18, 2014
60-20
Bapak sudah berumur 60 tahun, sedangkan aku akan berumur 20 tahun Agustus nanti. Tak terasa.
Tak terasa karena aku masih ingat rasanya terbangun di pelukannya menuju tempat tidur karena tertidur di depan televisi, namun aku berpura-pura masih berada di alam mimpi karena tak ingin beliau tahu bahwa aku nyaman dalam dekapannya dan menikmati tiap semilir wangi khas tubuhnya.
Tak terasa karena aku masih ingat rasanya diajari memainkan gitar dan piano olehnya, dengan tangannya yang besar, sedikit kasar, namun hangat menuntun jari-jari kecilku saat itu agar bisa melantunkan nada-nada merdu nan indah.
Tak terasa karena aku masih ingat rasanya punggungku dipukulinya dengan sapu lidi jika aku berbuat nakal seperti menyakiti adikku atau mencuri uang kembalian ibuku, namun setelah kemarahannya memudar, beliau seringkali secara tersirat mengungkapkan penyesalannya dengan mengajakku keluar untuk sekedar berjalan-jalan, lalu membelikanku layang-layang atau segenggam kelereng, juga terkadang es krim, permen, coklat, atau hal-hal lain yang aku sukai.
Tak terasa karena aku masih ingat rasanya bergumul dengan kakak dan adikku di dalam selimut, larut dalam cerita-ceritanya yang jenaka seperti kisah Abu Nawas, yang horor seperti kisah Dracula, atau bahkan pengalaman-pengalaman hidupnya yang penuh perjuangan dan berakhir mengagumkan.
Tak terasa karena aku masih ingat rasanya hancur berkeping-keping ketika melihat beliau yang kuanggap sebagai seorang bapak yang tegas dan kuat perkasa, menangis terisak-isak di akhir shalat-nya ketika ibu tirinya meninggal dunia, jauh di kampung halamannya.
Tak terasa karena aku masih ingat rasanya tertegun akan petuahnya dalam memaknai hidup dan kehidupan olehnya dengan intonasi yang berubah-rubah namun teratur dan sinkron dengan tiap kata-kata yang keluar dari mulutnya, dari lembut menenangkan hingga lantang meyakinkan.
-
Hari Sabtu, tanggal 14 Juni kemarin, bapak berulangtahun.
Bapak tetap seperti yang dulu. Tetap ceria, humoris, energik, supel, namun juga tegas; sesungguhnya penuh perhatian, caranya saja yang keras.
Bapak tetap kuanggap sebagai sosok yang serba bisa. Beliau pandai sekali dalam memainkan (hampir) semua alat musik, juga bernyanyi. Beliau juga serba pandai dalam bidang olahraga seperti menembak, memancing, bermain tenis, futsal, tenis meja, voli, bulutangkis, dan masih banyak lagi. Beliau juga pemegang sabuk hitam dalam pencak silat. Masakannya selalu enak, sketsa/gambarnya selalu bagus, dan juga keluargaku jarang sekali memanggil ahli reparasi karena beliau selalu bisa membenarkannya kembali.
Bapak memiliki banyak sekali teman dari segala kalangan, segala usia. Aku seringkali dibuat heran sekaligus iri dengannya, karena beliau dengan mudah dapat dekat dan akrab kepada orang baru, siapapun itu. Pernah sekali waktu ada pengamen yang membawakan lagu dengan kunci gitar yang salah, beliau keluar untuk mengajak pengamen tersebut duduk di teras rumah lalu mengoreksinya dengan kunci yang benar, bahkan beliau juga mengajari lagu-lagu baru kepadanya.
Dan juga yang paling penting, di umurnya yang sudah memasuki kepala enam, Bapak masih sehat. Semenjak aku bisa mengingat, dari dulu beliau tidak pernah sakit berat dan sampai masuk rumah sakit walaupun beliau mantan perokok berat dan memiliki darah tinggi. Beliau masih terlihat muda di mataku, walaupun rambutnya sudah beruban, juga kulit wajah dan lehernya sudah banyak mempunyai kerutan.
Bapakku adalah bapak juara satu seluruh dunia. Malam ini adalah nyanyian sunyi rasa sayangku yang tak bertepi untuk beliau.
Semoga saja Bapak berumur panjang sehingga terus melihatku tumbuh besar menjadi seorang dewasa dan sukses lalu membuatnya menangis bahagia dan bangga, hingga ingin mengangkatku tinggi ke udara seperti bagaimana yang beliau lakukan saat aku kecil dulu.
Amin.
Tak terasa karena aku masih ingat rasanya tertegun akan petuahnya dalam memaknai hidup dan kehidupan olehnya dengan intonasi yang berubah-rubah namun teratur dan sinkron dengan tiap kata-kata yang keluar dari mulutnya, dari lembut menenangkan hingga lantang meyakinkan.
-
Hari Sabtu, tanggal 14 Juni kemarin, bapak berulangtahun.
Bapak tetap seperti yang dulu. Tetap ceria, humoris, energik, supel, namun juga tegas; sesungguhnya penuh perhatian, caranya saja yang keras.
Bapak tetap kuanggap sebagai sosok yang serba bisa. Beliau pandai sekali dalam memainkan (hampir) semua alat musik, juga bernyanyi. Beliau juga serba pandai dalam bidang olahraga seperti menembak, memancing, bermain tenis, futsal, tenis meja, voli, bulutangkis, dan masih banyak lagi. Beliau juga pemegang sabuk hitam dalam pencak silat. Masakannya selalu enak, sketsa/gambarnya selalu bagus, dan juga keluargaku jarang sekali memanggil ahli reparasi karena beliau selalu bisa membenarkannya kembali.
Bapak memiliki banyak sekali teman dari segala kalangan, segala usia. Aku seringkali dibuat heran sekaligus iri dengannya, karena beliau dengan mudah dapat dekat dan akrab kepada orang baru, siapapun itu. Pernah sekali waktu ada pengamen yang membawakan lagu dengan kunci gitar yang salah, beliau keluar untuk mengajak pengamen tersebut duduk di teras rumah lalu mengoreksinya dengan kunci yang benar, bahkan beliau juga mengajari lagu-lagu baru kepadanya.
Dan juga yang paling penting, di umurnya yang sudah memasuki kepala enam, Bapak masih sehat. Semenjak aku bisa mengingat, dari dulu beliau tidak pernah sakit berat dan sampai masuk rumah sakit walaupun beliau mantan perokok berat dan memiliki darah tinggi. Beliau masih terlihat muda di mataku, walaupun rambutnya sudah beruban, juga kulit wajah dan lehernya sudah banyak mempunyai kerutan.
Bapakku adalah bapak juara satu seluruh dunia. Malam ini adalah nyanyian sunyi rasa sayangku yang tak bertepi untuk beliau.
Semoga saja Bapak berumur panjang sehingga terus melihatku tumbuh besar menjadi seorang dewasa dan sukses lalu membuatnya menangis bahagia dan bangga, hingga ingin mengangkatku tinggi ke udara seperti bagaimana yang beliau lakukan saat aku kecil dulu.
Amin.
Monday, June 9, 2014
Aku Beriman, Maka Aku Berpikir
Tuhan, bisakah aku menerima hukum-Mu tanpa meragukannya lebih dahulu?
Karena itu Tuhan, maklumilah lebih dulu bila aku masih ragu akan kebenaran hukum-hukum-Mu. Jika Engkau tak suka hal itu, berilah aku pengertian-pengertian sehingga keraguan itu hilang.
Tuhan, murkakah Engkau bila aku berbicara dengan hati dan otak yang bebas, hati dan otak sendiri yang telah Engkau berikan kepadaku dengan kemampuan bebasnya sekali?
Tuhan, aku ingin bertanya pada Engkau dalam suasana bebas.
Aku percaya, Engkau tidak hanya benci pada ucapan-ucapan yang munafik, tapi juga benci pada pikiran-pikiran yang munafik, yaitu pikiran-pikiran yang tidak berani memikirkan yang timbul dalam pikirannya, atau pikiran yang pura-pura tidak tahu akan pikirannya sendiri.
Aku tidak ingin menjadi mereka yang lalai dalam ibadahnya. Bukan yang tidak melaksanakannya, tapi yang beribadah hanya untuk pengguggur kewajiban, sekedar takut akan ancamanmu tentang pedihnya neraka, dan tergiur akan kebahagiaan yang kekal di tempat yang dijanjikan oleh Engkau, yaitu surga. Tanpa mengerti apa makna dari ibadah itu sendiri. Tanpa memahami-Mu. Mencintaimu semata-mata karena sifat materialistik yang ada dalam tiap diri manusia.
Aku tidak ingin menjadi muslim yang tidak berpikir. Muslim yang mematuhi segala suruhan-Mu dan larangan-Mu hanya karena sepenuhnya berpasrah dari indoktrinasi agama-Mu yang dilakukan oleh orangtuaku sedari kecil, menjadikanku konservatif atas segala pemikiran atau nilai yang menyimpang dari apa yang sudah diterapkan walaupun sedikit.
Salahkah aku bila aku menggunakan pikiran-pikiran bebasku demi mencapai kebenaran-Mu?
Memang aku dahaga. Dahaga akan segala pengaruh. Karena itu kubuka bajuku, kusajikan tubuhku yang telanjang agar setiap bagian dari tubuhku berkesempatan memandang alam luas dan memperoleh bombardemen dari segala penjuru tanpa rasa takut akan dicap oleh sesama manusia.
Karena aku tahu, hanya Engkaulah yang berhak menilai keimanan seseorang.
Sekali lagi, aku bukan nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis. Aku bukan buddha, bukan protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut muslim. Aku ingin orang menilai dan memandangku sebagai suatu kemutlakan (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok mana saya termasuk serta dari aliran apa saya berangkat.
Memahami manusia sebagai manusia.
Manusia bebas, manusia yang tidak terkekang, manusia yang tidak munafik. Manusia yang berjuang mencari kebenaran hakiki atas-Mu dari keragu-raguannya.
Dengan demikian Rabbi, aku berharap cintaku pada-Mu akan pulih kembali.
-
Terinspirasi oleh Ahmad Wahib, seorang pemikir, dengan menggunakan dan mengembangkan beberapa penggalan kalimat dari catatan hariannya di dalam buku Pergolakan Pemikiran Islam (1981).
Karena itu Tuhan, maklumilah lebih dulu bila aku masih ragu akan kebenaran hukum-hukum-Mu. Jika Engkau tak suka hal itu, berilah aku pengertian-pengertian sehingga keraguan itu hilang.
Tuhan, murkakah Engkau bila aku berbicara dengan hati dan otak yang bebas, hati dan otak sendiri yang telah Engkau berikan kepadaku dengan kemampuan bebasnya sekali?
Tuhan, aku ingin bertanya pada Engkau dalam suasana bebas.
Aku percaya, Engkau tidak hanya benci pada ucapan-ucapan yang munafik, tapi juga benci pada pikiran-pikiran yang munafik, yaitu pikiran-pikiran yang tidak berani memikirkan yang timbul dalam pikirannya, atau pikiran yang pura-pura tidak tahu akan pikirannya sendiri.
Aku tidak ingin menjadi mereka yang lalai dalam ibadahnya. Bukan yang tidak melaksanakannya, tapi yang beribadah hanya untuk pengguggur kewajiban, sekedar takut akan ancamanmu tentang pedihnya neraka, dan tergiur akan kebahagiaan yang kekal di tempat yang dijanjikan oleh Engkau, yaitu surga. Tanpa mengerti apa makna dari ibadah itu sendiri. Tanpa memahami-Mu. Mencintaimu semata-mata karena sifat materialistik yang ada dalam tiap diri manusia.
Aku tidak ingin menjadi muslim yang tidak berpikir. Muslim yang mematuhi segala suruhan-Mu dan larangan-Mu hanya karena sepenuhnya berpasrah dari indoktrinasi agama-Mu yang dilakukan oleh orangtuaku sedari kecil, menjadikanku konservatif atas segala pemikiran atau nilai yang menyimpang dari apa yang sudah diterapkan walaupun sedikit.
Salahkah aku bila aku menggunakan pikiran-pikiran bebasku demi mencapai kebenaran-Mu?
Memang aku dahaga. Dahaga akan segala pengaruh. Karena itu kubuka bajuku, kusajikan tubuhku yang telanjang agar setiap bagian dari tubuhku berkesempatan memandang alam luas dan memperoleh bombardemen dari segala penjuru tanpa rasa takut akan dicap oleh sesama manusia.
Karena aku tahu, hanya Engkaulah yang berhak menilai keimanan seseorang.
Sekali lagi, aku bukan nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis. Aku bukan buddha, bukan protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut muslim. Aku ingin orang menilai dan memandangku sebagai suatu kemutlakan (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok mana saya termasuk serta dari aliran apa saya berangkat.
Memahami manusia sebagai manusia.
Manusia bebas, manusia yang tidak terkekang, manusia yang tidak munafik. Manusia yang berjuang mencari kebenaran hakiki atas-Mu dari keragu-raguannya.
Dengan demikian Rabbi, aku berharap cintaku pada-Mu akan pulih kembali.
-
Terinspirasi oleh Ahmad Wahib, seorang pemikir, dengan menggunakan dan mengembangkan beberapa penggalan kalimat dari catatan hariannya di dalam buku Pergolakan Pemikiran Islam (1981).
Friday, June 6, 2014
Untitled
Sejak aku memulainya. Yang ada hanya waktu yang berjalan begitu cepat. Percakapan yang tidak berakhir sempurna. Mata yang ngawur, seperti orang mengantuk. Prestasi yang jeblok. Semua doa orang lain tak sampai untukku. Ah, apakah memang ada?
Sholatku tak tenang. Mungkin semua hanya sugesti, pikirku. Terlalu kagum dengan paham agnostik. Iri kepada adik, kakak, dan keluarga dalam hal sholat mereka.
Badan yang rusak. Badan yang lemah. Racun terus masuk, terus konsumsi, bagaimana tidak. Hanya menuruti candu, nikmat sesaat, menyesal, besoknya mau lagi. Seperti masturbasi.
Penyesalan, sesekali. Absurditas. Ketidakmaksimalan. Kemunafikkan. Kegagalan. Ketidakbermanfaatan. Kehilangan, kecaman juga, mungkin. Surealis.
Wah, umurku sudah hampir 20 tahun. Ya. Tidak terasa. Bodoh! Kok? Sekarang belum kapok, mau jadi apa kau, nak? Ya, ampun. Ditipu daya. Keyakinan naik turun. Mau belajar tapi tak mau sungguh-sungguh berjuang.
Hidup ini seperti ditimpa tanah longsor; berat, menunggu ditolong orang lain, kalau tidak ya menunggu mati.
Yang ada kau dan setan. Jadi pandai-pandai menyegel diri.
Teman. Ya, setidaknya aku yang menganggap mereka teman. Lalu ada orang tua, keluarga, guru, dan lainnya, semua tertipu. Sebenarnya terhina. Kuhina. Kecuali yang tak nampak, makhluk halus tidak dihitung.
Mau bagaimana lagi? Siapa yang lebih dulu mulai membicarakan hina di belakang? Aku lebih memilih untuk ditembak tepat di dahiku sendiri, daripada punggungku yang ditusuk, lalu di kemudian hari aku baru mengetahui ada pisau yang menancap di belakangku sejak lama dan lalu merasakan sakitnya karena sudah membusuk.
Sekarang sudah hampir terkulai. Serasa berat kaki ini. Serasa buntu otak ini. Yang ada hanya abstrak. Tidak konsisten, plin-plan saja. Ya, ini memang kebodohanku. Aku tidak boleh menyalahkan mereka. Yang ada aku, mulutku, nafsuku, kemudahan dan pertanggungjawaban. Semua sudah tertipu. Ma’afkan aku.
20 tahun yang terasa cepat. Tidak bermanfaat. Susah untuk kembali. Aku perlu pendamping dan pembimbing. Aku pikir jika aku mengaku maka aku menjadi terhina. Hina durjana. Sudah ribuan menitku, sepertinya, dirampasnya. Wah, aku merasa sudah dikalahkan.
Aku memang masih seperti dulu. Masih terperangkap dan belum juga beranjak pergi. Tarik aku. Angkat aku. Lalu banting ke dalam sumur. Yang gelap, pengap, sesak, angker, seperti terjebak di dalam kuburanku sendiri.
Anggap saja aku buta, tuli dan bisu. Semu. Semua tertipu. Hanya kami yang tahu. Kalian tidak. Mau diratap tapi tiada guna. Mau mati masih bangkrut. Mau hidup takut mengulangi hal yang sama.
Apa sebaiknya aku hijrah? Belajar agama dari nol.
Adakah yang mau denganku setelah semua ini? Tidak tahu siapa istriku nanti. Ah, bahkan aku tak bisa membayangkannya. Tak bisa membayangkan masa depanku..
Sekarang aku jujur, aku tidak mampu. Aku butuh waktu untuk belajar jadi orang yang bersih. Yang bisa mengantarkanku ke surga. Surga akhirat saja. Surga dunia tidak jadi tujuan, tidak apa-apa. Jadi sampah masyarakat, sekalipun. Jadi orang gila, telanjang. Malu? Kan gila, tapi bersih. Amalku bersih, ya.
Aku seperti binatang buas yang baru lepas kandang. Andai saja. Begini dan begitu. Tiap orang memang punya garis berbeda. Aku merasa aku sudah di pinggir palungku. Semoga aku tidak menginjak lumpur hidup, terhisap. Merasa sudah tua. Tidak berdaya. Yang ada di otakku itu itu saja. Umur bisa diperpanjang, nggak, ya?
Kenapa tidak ijinkan aku jadi penyebar agama saja? Kalau boleh. Kalau bisa. Pengamal agama. Pembeda dalam agama. Pembelajar. Orang yang punya target dan rencana. Orang yang tahu diri dan waktu.
Mungkin disini memang tempatku. Tempat kumuh yang baru. Antara menjadi cahaya atau menjadi kotoran. Mungkin batu kerikil di pinggir jalan, yang tidak akan pernah dipedulikan seseorang pun.
Oh, hidup!
Woy, hidup! Hidup sialan! Yang tidak memihakku! Bedebah! Jangan berakhir cepat sebelum aku bersih dan siap! Tapi jangan terlalu panjang untuk dilanjutkan! Tuh, tidak konsisten, plin-plan saja. Ya, sudah. Semoga yang aku sudah umbar aku tepati.
Aku harap aku tidak menjadi lebih munafik. Aku harap aku tidak menjadi lebih tersesat. Semoga belum terlambat.
Mohon bimbingannya, ya!
-
Apakah aku sudah memahami pandanganmu atas kemuakan akan hidupmu sendiri, Keyko? Semoga Kamu dapat membaca ini, bagaimanapun caranya, dimanapun kamu berada.
Sholatku tak tenang. Mungkin semua hanya sugesti, pikirku. Terlalu kagum dengan paham agnostik. Iri kepada adik, kakak, dan keluarga dalam hal sholat mereka.
Badan yang rusak. Badan yang lemah. Racun terus masuk, terus konsumsi, bagaimana tidak. Hanya menuruti candu, nikmat sesaat, menyesal, besoknya mau lagi. Seperti masturbasi.
Penyesalan, sesekali. Absurditas. Ketidakmaksimalan. Kemunafikkan. Kegagalan. Ketidakbermanfaatan. Kehilangan, kecaman juga, mungkin. Surealis.
Wah, umurku sudah hampir 20 tahun. Ya. Tidak terasa. Bodoh! Kok? Sekarang belum kapok, mau jadi apa kau, nak? Ya, ampun. Ditipu daya. Keyakinan naik turun. Mau belajar tapi tak mau sungguh-sungguh berjuang.
Hidup ini seperti ditimpa tanah longsor; berat, menunggu ditolong orang lain, kalau tidak ya menunggu mati.
Yang ada kau dan setan. Jadi pandai-pandai menyegel diri.
Teman. Ya, setidaknya aku yang menganggap mereka teman. Lalu ada orang tua, keluarga, guru, dan lainnya, semua tertipu. Sebenarnya terhina. Kuhina. Kecuali yang tak nampak, makhluk halus tidak dihitung.
Mau bagaimana lagi? Siapa yang lebih dulu mulai membicarakan hina di belakang? Aku lebih memilih untuk ditembak tepat di dahiku sendiri, daripada punggungku yang ditusuk, lalu di kemudian hari aku baru mengetahui ada pisau yang menancap di belakangku sejak lama dan lalu merasakan sakitnya karena sudah membusuk.
Sekarang sudah hampir terkulai. Serasa berat kaki ini. Serasa buntu otak ini. Yang ada hanya abstrak. Tidak konsisten, plin-plan saja. Ya, ini memang kebodohanku. Aku tidak boleh menyalahkan mereka. Yang ada aku, mulutku, nafsuku, kemudahan dan pertanggungjawaban. Semua sudah tertipu. Ma’afkan aku.
20 tahun yang terasa cepat. Tidak bermanfaat. Susah untuk kembali. Aku perlu pendamping dan pembimbing. Aku pikir jika aku mengaku maka aku menjadi terhina. Hina durjana. Sudah ribuan menitku, sepertinya, dirampasnya. Wah, aku merasa sudah dikalahkan.
Aku memang masih seperti dulu. Masih terperangkap dan belum juga beranjak pergi. Tarik aku. Angkat aku. Lalu banting ke dalam sumur. Yang gelap, pengap, sesak, angker, seperti terjebak di dalam kuburanku sendiri.
Anggap saja aku buta, tuli dan bisu. Semu. Semua tertipu. Hanya kami yang tahu. Kalian tidak. Mau diratap tapi tiada guna. Mau mati masih bangkrut. Mau hidup takut mengulangi hal yang sama.
Apa sebaiknya aku hijrah? Belajar agama dari nol.
Adakah yang mau denganku setelah semua ini? Tidak tahu siapa istriku nanti. Ah, bahkan aku tak bisa membayangkannya. Tak bisa membayangkan masa depanku..
Sekarang aku jujur, aku tidak mampu. Aku butuh waktu untuk belajar jadi orang yang bersih. Yang bisa mengantarkanku ke surga. Surga akhirat saja. Surga dunia tidak jadi tujuan, tidak apa-apa. Jadi sampah masyarakat, sekalipun. Jadi orang gila, telanjang. Malu? Kan gila, tapi bersih. Amalku bersih, ya.
Aku seperti binatang buas yang baru lepas kandang. Andai saja. Begini dan begitu. Tiap orang memang punya garis berbeda. Aku merasa aku sudah di pinggir palungku. Semoga aku tidak menginjak lumpur hidup, terhisap. Merasa sudah tua. Tidak berdaya. Yang ada di otakku itu itu saja. Umur bisa diperpanjang, nggak, ya?
Kenapa tidak ijinkan aku jadi penyebar agama saja? Kalau boleh. Kalau bisa. Pengamal agama. Pembeda dalam agama. Pembelajar. Orang yang punya target dan rencana. Orang yang tahu diri dan waktu.
Mungkin disini memang tempatku. Tempat kumuh yang baru. Antara menjadi cahaya atau menjadi kotoran. Mungkin batu kerikil di pinggir jalan, yang tidak akan pernah dipedulikan seseorang pun.
Oh, hidup!
Woy, hidup! Hidup sialan! Yang tidak memihakku! Bedebah! Jangan berakhir cepat sebelum aku bersih dan siap! Tapi jangan terlalu panjang untuk dilanjutkan! Tuh, tidak konsisten, plin-plan saja. Ya, sudah. Semoga yang aku sudah umbar aku tepati.
Aku harap aku tidak menjadi lebih munafik. Aku harap aku tidak menjadi lebih tersesat. Semoga belum terlambat.
Mohon bimbingannya, ya!
-
Apakah aku sudah memahami pandanganmu atas kemuakan akan hidupmu sendiri, Keyko? Semoga Kamu dapat membaca ini, bagaimanapun caranya, dimanapun kamu berada.
Tuesday, May 13, 2014
Alat Tukar Menukar
Semua
kebahagiaan dan kesedihan berasal dari uang.
Setidaknya bagi mereka yang menuhankannya.
Menyenangkan
dan membuat sedih orang lain butuh biaya materiil dan non-materiil.
Memakan
uang teman, orang tua, dan atasanmu sendiri.
Dan
katanya, bahkan bisa membeli cinta. Bermain lendir per jam.
Juga
uang bensin sekedar melepas rindu kepada lelaki cantik dan wanita tampan idaman
hatimu.
Menulis
ini pun butuh biaya.
Berperan layaknya pengendali alam semesta, kehidupan tentunya,
bahkan
untuk kamu yang hobi beribadah (atau sekedar mengguggurkan kewajiban?) dan beramal baik (karena takut neraka dan rindu surga).
Bagaimana
kalau kita hancurkan saja b.a.z.i.s di bulan suci?
Memberi kacang sebagai sedekah seperti kepada monyet kelaparan dalam kurungan. Tapi konsep beras boleh juga, untuk perut juga, ya?
Lebih
baik sistem purba diberlakukan kembali saja, yaitu barter yang dicontohkan di
film kolosal di jaman sebelum sang juru penyelamat lahir? Kenapa tidak? Sama saja, ya?
Ah,
aku terlalu tolol untuk menjadi sok tahu dan banyak tanya.
Bagaimana
kalau aku memberi saja titah bagi kalian yang gemar berharap, berdoa, bertekuk
lutut dan meminta belas kasihan sepanjang waktu agar ada yang memusnahkan uang? Untuk kehidupan lebih baik, juga menghilangkan konsumerisme yang sangat dekat
dengan nyawa dan hutang budi, termasuk menyekolahkan anak anda menjadi yang
terhormat daripada orangtuanya sendiri.
Membalasnya
dengan membuang mereka yang sudah jompo.
Membeli
darah dan nafas buatan pada kapital swasta.
~
Pencetak
masalah, pengendali kehidupan, sok tuhan, lingkaran setan!
Terkutuklah penemu konsep uang!
Wednesday, March 12, 2014
Introduction
Finally.. This day come as well.
Sudah lama blog ini dibuat, tapi belum terisi. Dari mulai lebih memilih menghabiskan waktu luang dengan kesenangan lain, keringnya ide hanya untuk post pembuka blog ini, juga menunggu layout title dari kakak tercinta. But, here I am now.
Rencananya, blog ini akan membahas apa saja yang ada di dalam kepala, dari kehidupan sehari-hari, momen-momen penting dalam hidup, impian beserta proses-proses dalam menggapainya, pemikiran-pemikiran absurd, mungkin, sampai interests terhadap musik, seni, filsafat, psikologi, dan tentu saja sastra. Blog ini akan menjadi semacam mangkuk besar dalam dimensi ketujuh yang menampung segala hal yang ingin dicurahkan, diceritakan, dan dijelaskan teruntuk siapa saja yang ingin membacanya. Bisa jadi, blog ini menjadi semacam upaya untuk lebih mengenal diriku sendiri, juga mengenal malam.
Rape the night. Malam yang menawarkan kenangan, renungan, angan-angan. Malam yang tak tertebak kehendaknya. Malam yang membuat khayal menjadi ramai. Malam ibarat memasrahkan dirinya untuk dijamah oleh mereka yang berhasrat memperkosanya, agar segala rahasianya terkuak. Rahasia-rahasia yang berputar miring dan bertabrakan, menafsirkan pesan tersirat agar mereka bisa mencoba untuk memahaminya melalui kacamatanya masing-masing. Mereka sesungguhnya tahu bahwa, katakan, sampai dunia sudah tidak bertuhan nanti pun, mereka tidak akan pernah menemukan secara pasti apa yang mereka coba telaah, tetapi hal itu bukanlah sesuatu hal yang sia-sia. Kemapanan sejati dalam proses pencariannyalah yang ingin mereka dapatkan, sadar maupun tidak sadar, demi mencapai aktualisasi dirinya.
Aku adalah salah satu dari mereka; anonim-anonim yang larut dalam malam, tersesat di belakang matanya.
Rape the night. Malam yang menawarkan kenangan, renungan, angan-angan. Malam yang tak tertebak kehendaknya. Malam yang membuat khayal menjadi ramai. Malam ibarat memasrahkan dirinya untuk dijamah oleh mereka yang berhasrat memperkosanya, agar segala rahasianya terkuak. Rahasia-rahasia yang berputar miring dan bertabrakan, menafsirkan pesan tersirat agar mereka bisa mencoba untuk memahaminya melalui kacamatanya masing-masing. Mereka sesungguhnya tahu bahwa, katakan, sampai dunia sudah tidak bertuhan nanti pun, mereka tidak akan pernah menemukan secara pasti apa yang mereka coba telaah, tetapi hal itu bukanlah sesuatu hal yang sia-sia. Kemapanan sejati dalam proses pencariannyalah yang ingin mereka dapatkan, sadar maupun tidak sadar, demi mencapai aktualisasi dirinya.
Aku adalah salah satu dari mereka; anonim-anonim yang larut dalam malam, tersesat di belakang matanya.
Subscribe to:
Posts (Atom)



